Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Hidup Damai dengan Seks

Edisi C3I: e-Konsel 070 - Seks dalam Kehidupan Kristen

Redaksi: Berikut ini adalah artikel pendek hasil ringkasan dari sebuah buklet kecil yang diterbitkan oleh SAAT (Seminari Alkitab Asia Tenggara). Buklet yang ditulis oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph.D. ini sangat pas untuk menjawab banyak pertanyaan yang muncul dari kalangan orang-orang Kristen tentang seks. Selain ringkas dan padat, uraian yang disampaikan dalam buklet itu sederhana dan apa adanya. Jika Anda tertarik, silakan membeli bukunya.

HIDUP DAMAI DENGAN SEKS

Ada pendapat yang mengatakan bahwa orang yang belum menikahlah yang memiliki pergumulan dalam mengendalikan dorongan seksual. Setelah menikah maka masalah itu akan bisa teratasi dengan sendirinya. Ternyata, pandangan ini tidak benar, karena setelah menikah pun pergumulan tersebut tidak selesai begitu saja. Dengan adanya pengalaman seksual, maka pergumulan itu justru akan lebih sulit sebab ia akan lebih menginginkannya.

Ada tiga hal penting yang bisa digunakan untuk mengatasi pergumulan seksual, yaitu:

  1. Gejolak seksual pada masa remaja dan pemuda jauh melampaui masa-masa sesudahnya.
    Tingginya gejolak seksual pada masa ini disebabkan oleh matangnya organ-organ seksual dan sempurnanya proses pertumbuhan. Selain itu, pada masa-masa ini rawan sekali godaan-godaan dari luar, khususnya godaan pornografi.

  2. Pemahaman yang benar dan realistis terhadap gejolak seksual akan membantu kita dalam menghadapinya.
    Kita harus memiliki pemahaman yang realistis terhadap segala sesuatu yang sedang terjadi pada tubuh dan lingkungan di sekitar kita apakah dapat memberikan ketenangan, sebagai ganti kepanikan, kekuatan sebagai ganti kelemahan, dan pengharapan sebagai ganti keputusasaan.

  3. Tuhan memberikan kuasa-Nya kepada orang yang taat dan takut kepada-Nya, sehingga gejolak seksual tersebut bisa dikendalikan.
    Tuhan hanya akan menyatakan kuasa-Nya kepada kita jika kita memiliki rasa takut dan taat kepada-Nya. Oleh karena itu, kedua hal ini sangat penting bagi orang yang sedang mengalami pergumulan seksual.

Pengenalan kita terhadap Alkitab sangatlah berkaitan dengan pemahaman kita terhadap seks. Kata SEKS sendiri bisa dijadikan akronim dalam memahami arti sebenarnya dari kata ini.

"S": SUCI

Nilai moral yang jelas sangat penting dalam pembahasan seks. Tanpa nilai moral yang jelas, seks bisa menjadi suatu hal yang bebas, tidak bertanggung jawab, dan hanya digunakan sebagai pemuasan nafsu dan kesenangan jasmani saja. Seks memang sama dengan kebutuhan tubuh jasmani kita akan makanan, tetapi meskipun demikian, ada aturan- aturan yang harus dipatuhi. Tuhan memberikan prinsip yang benar mengenai seks dalam 1Korintus 6:13b,15b,16,18 sbb.:

"Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh .... Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak! Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? ... Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri."

Dari ayat tersebut di atas, bisa disimpulkan, Tuhan tidak menghendaki kita terlibat dalam percabulan. Istilah percabulan dibedakan dengan perzinahan. Percabulan atau ´porneia´, berasal dari kata ´porne´ yang berarti pelacur, kemudian dari kata tersebut dihasilkan istilah ´porno´ yang sering diasumsikan dengan hal-hal yang bersifat seksual dan terlarang. Sedangkan perzinahan atau ´moicheuo´ adalah percabulan yang menunjuk pada hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan yang belum berstatus menikah atau dengan seseorang yang berstatus menikah (Imammat 20:10; Yeremia 29:23; Hosea 4:13; Matius 5:32; 19:9)

.

Tuhan menciptakan hubungan seks sebagai hubungan yang suci, sehingga Tuhan melarang kita untuk melanggarnya. Hubungan seks hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah terikat dalam hubungan pernikahan dan pelanggaran terhadap perintah Tuhan ini adalah dosa.

Jadi kesimpulannya, tubuh kita adalah anggota tubuh Kristus, jika kita berbuat cabul atau zinah, maka kita juga berbuat demikian terhadap tubuh Kristus. Tubuh Kristus adalah suci, sama dengan hubungan seks yang juga suci dan kita tidak diperkenankan untuk mencemarkan keduanya.

"E": ENERGI

Dr. Sigmund Freud, seorang neorolog Austria mengemukakan bahwa manusia memang memiliki naluri seks. Menurutnya, naluri seks adalah suatu kekuatan yang selalu menuntut kepuasan, jika tidak, maka akan menimbulkan ketegangan. Sedangkan seks itu sendiri, menurutnya merupakan suatu usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup.

Naluri seks sudah ada dalam diri manusia sejak lahir dan memiliki kekuatan yang besar untuk segera dipenuhi. Naluri seks tidak mudah untuk dikendalikan dan selalu mencari kenikmatan. Masa remaja adalah masa dimana naluri seks ini mulai mencari kepuasan dan kenikmatan melalui atau yang berkaitan dengan hubungan kelamin atau hubungan seks. Saat inilah, biasanya remaja mulai mengalami gejolak-gejolak seksual dan mulailah pergumulan mereka untuk mengendalikannya.

Gejolak seksual adalah hal yang normal dan setiap remaja pasti akan mengalaminya. Tuhan menciptakan seks untuk memberikan kenikmatan pada manusia, tetapi Tuhan juga menuntut manusia untuk mampu mengendalikannya, sehingga kenikmatan itu bisa dicapai.

"K": KETURUNAN

Tujuan Tuhan menciptakan seks adalah sebagai sarana penyambung keturunan dan sebagai puncak kesatuan antara dua individu (Kejadian 2:24). Namun, Tuhan juga memberikan aturan yang sangat jelas dalam proses tersebut, yaitu hanya mereka yang sudah terikat dalam pernikahan saja yang boleh melakukannya. Bagi Tuhan, anak sebagai buah dari penyatuan dua individu tersebut merupakan suatu tanggung jawab yang besar dan serius, sehingga hanya pasangan yang telah bersepakat untuk benar-benar bersatu, melebur menjadi satu saja yang Tuhan percayai untuk menanggungnya. Pasangan yang menikah karena telah hamil terlebih dahulu dan tidak memiliki persiapan yang matang akan memberikan akibat yang buruk kepada anak mereka.

Tuhan menyatukan suami istri dalam hubungan seks sebagai lambang dari puncak cinta dan keintiman berdasarkan cinta yang berakar. Keintiman selalu bertujuan untuk mencapai kesatuan, sehingga anak yang dilahirkan sebagai hasil dari hubungan seks ini merasakan bahwa ia dilahirkan sebagai hasil dari cinta kasih kedua orangtuanya.

"S": SEIMBANG

Menurut pandangan para filsuf Yunani, kesehatan tercipta karena adanya keseimbangan antara tubuh dan jiwa. Demikian pula dengan seks, Tuhan menciptakan naluri seks untuk menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Dunia yang penuh dengan ketegangan ini membuat manusia membutuhkan kelegaan dan seks merupakan salah satu jalan yang diciptakan Tuhan untuk melepaskan ketegangan itu. Meskipun hanya terbatas bagi mereka yang sudah menikah saja yang bisa mendapatkannya, namun Tuhan juga tetap memperhatikan dan memberikan kelegaan bagi mereka yang belum menikah melalui kekuatan-Nya yang diberikan kepada kita.

Sumber
Halaman: 
1 - 6
Judul Artikel: 
Seri Psikologi Praktis -- Hidup Damai dengan Seks
Penerbit: 
Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2001

Published in e-Konsel, 01 September 2004, Volume 2004, No. 70


Komentar