Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Jenis / Bentuk Konseling

Edisi C3I: e-Konsel 034 - Jenis/Bentuk Konseling

Dr. Gary R. Collins, Ph.D., dalam bukunya yang berjudul Konseling yang Efektif, menuliskan: "Ahli-ahli konseling menyimpulkan, bahwa ada beberapa macam bentuk konseling Kristen. Dengan setiap konsele, kita dapat menggunakan satu atau lebih dari bentuk-bentuk konseling di bawah ini:

  1. Supportive-Konseling
  2. Confrontational-Konseling
  3. Educative-Konseling
  4. Spiritual-Konseling
  5. Group-Konseling
  6. Informal-Konseling
  7. Preventive-Konseling."

1. SUPPORTIVE-KONSELING

Supportive-Konseling bukanlah dimaksudkan untuk mengikat konsele dalam hubungan yang tidak matang dan kekanak-kanakan supaya ia bergantung kepadanya, tetapi justru sebaliknya, bimbingan konselor itu diberikan sementara konsele mulai maju dan terbeban menghadapi persoalan hidup ini secara efektif. Untuk mencapai hal ini, konsele didorong untuk mengutarakan secara terbuka perasaan dan frustasinya. Konselor harus mengingatkan bila konsele memberikan respon yang tidak sehat, seperti menolak tanggung jawab terhadap problema yang ada atau tidak mengakui, bahwa problemanya betul-betul ada dengan mencoba menghindarkan diri dengan fantasi, alkohol, obat-obatan; dan menolak pertolongan dari luar, bahkan menyangkali timbulnya perasaan-perasaan negatif seperti kemarahan, kegelisahan, rasa bersalah, dan menolak untuk memikirkan alternatif-alternatif yang realistis dengan menjauhkan diri dari sanak keluarga dan teman- teman.

Akan lebih sehat bila konsele ditolong untuk menghadapi problema kehidupan mereka secara realistis dan mencoba untuk memahaminya. Beri kesempatan kepada konsele untuk mendiskusikan kejengkelannya, rasa bersalah, bahkan perasaan-perasaan negatifnya dan untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan jalan keluar yang lebih bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Tolong konsele menerima kenyataan bila suatu keadaan memang tidak dapat diubah lagi (misal, kematian) dan dorong konsele untuk membina hubungan baik dengan famili dan teman serta mengambil langkah praktis untuk mengatasi problemnya secara konstruktif. Yakinkan konsele untuk percaya atas pimpinan Tuhan dalam menghadapi problemnya (Matius 11:28-30) dan bahwa Tuhan sendirilah yang akan memimpin kita mengambil langkah-langkah praktis dalam mengatasi persoalan yang timbul.

Alkitab mengajarkan kita untuk saling menguatkan dan mendukung satu dengan yang lain (1Tesalonika 5:11; Ibrani 3:13; 10:25). Meskipun konfrontasi kadang-kadang diperlukan, kita harus berbicara "dengan kasih" (Efesus 4:15). Konselor yang suportif memberikan perhatian, dorongan yang lebih peka, mencoba dengan lemah lembut menyadarkan konsele terhadap tantangan realita kehidupan ini dan membimbing konsele pada pertumbuhan iman dan kematangan emosi sehingga problema dapat diatasi dengan lebih mudah.

2. CONFRONTATIONAL-KONSELING

Dalam menghadapi orang dengan persoalan-persoalannya, Tuhan Yesus seringkali mengkonfrontasi langsung dosa-dosa mereka, Ia mengkonfrontasi orang muda yang kaya karena ia banyak memikirkan tentang hartanya (Lukas 18:22); perempuan Samaria dengan perzinahannya (Yohanes 4:17-18); murid-murid-Nya karena kurang percayanya (Matius 8:26; 14:31); dan peimimpin-pemimpin agama karena dosa-dosa mereka (Matius 12:34; 15:7-8; 23:23-33; Yohanes 8:44-45).

Memang pantas bagi Tuhan Yesus "yang tidak mengenal dosa" untuk menunjukkan dosa orang lain, tetapi bagaimana dengan kita yang tidak sempurna dalam mengkonfrontasikan kelemahan-kelemahan orang lain? Saat ini cara konfrontasi seperti ini masih menjadi pro dan kontra dari para konselor-konselor sendiri karena pada umumnya mereka merasa tidak tepat jika harus membuat konsele merasa bersalah atau terang-terangan menunjukkan kesalahan mereka.

Konselor Kristen memang tidak seharusnya menghakimi konsele (Matius 7:1) dengan maksud mengkritik. Namun, dengan penuh kelemahlembutan, konselor harus menolong konsele agar mampu menghadapi dosanya, mengakuinya di hadapan Allah dan mungkin juga di hadapan orang lain (Yakobus 5:16) dan menolong dia bergumul memperbaiki tingkah lakunya yang buruk.

Hal yang perlu disadari konselor adalah yang dimaksud dengan konfrontasi ini tidak sekedar menunjukkan dosa-dosa konsele saja tetapi juga menolong konsele untuk lebih memahami tindakan mereka sendiri, mendorong mereka untuk mendengar apa yang mungkin tidak mereka sukai, bahkan menolong mereka untuk melakukan langkah-langkah perbaikan yang selama ini mereka tolak. Untuk melakukan konfrontasi, dibutuhkan keberanian dan ketegasan karena konsele mungkin memberikan respon negatif atau marah. Memberikan konfrontasi sedikit demi sedikit dan penuh pengertian kepada konsele dapat menjadi bagian yang vital dalam konseling.

3. EDUCATIVE-KONSELING

Pada dasarnya, cara orang berpikir, berbicara, berpakaian dan bergaul adalah hasil dari apa yang telah dipelajari sejak kecil. Demikian pula dengan cara orang menyelesaikan masalah, semuanya adalah hasil dari pengalaman-pengalaman yang pernah dialaminya.

Jika kenyataannya banyak tingkah laku yang dapat dipelajari, sangatlah beralasan jika kita simpulkan bahwa konseling harus juga meliputi pengajaran dimana tingkah laku yang tidak efektif dapat diperbaiki dan konsele ditolong untuk belajar tingkah laku yang lebih baik. Dengan pendekatan seperti ini, konselor adalah seorang pengajar dan konseling Kristen adalah bagian istimewa dari pendidikan agama Kristen.

Pekerjaan konselor pada dasarnya banyak yang menyangkut masalah pendidikan. Orang-orang yang datang padanya dengan pertanyaan- pertanyaan seputar teologia, hubungan suami-istri, karir, pergaulan, dan sebagainya adalah orang-orang yang benar-benar membutuhkan pengajaran dan tambahan pengetahuan.

Walaupun konselor cenderung untuk memberikan nasehat pada konsele, adalah hal yang berlebihan jika konselor dianggap sebagai orang yang menguasai segala bidang. Dalam Educative-Konseling ini, kita harus tetap menunjukkan sikap hati yang rendah dan membiasakan diri untuk berpegang pada firman Tuhan dalam tiap problema yang ada. Kita harus mohon kebijaksanaan dari Tuhan pada waktu menolong orang lain, dan kita harus mengakui bila kita memang benar-benar tidak mengerti jawabannya, sehingga dapat bergumul bersama-sama dengan konsele untuk menyelesaikan persoalannya. Kunci keberhasilan konselor adalah keyakinan bahwa Tuhan dapat memakai kita untuk mengajar orang lain.

4. SPIRITUAL-KONSELING

Pada pihak tertentu, memang setiap konseling Kristen adalah Spiritual-Konseling. Sebagai murid-murid Kristus, kita mempunyai tugas untuk menjadikan semua orang menjadi murid dan menolong mereka yang lemah (Matius 28:19-20; Galatia 6:1-2; 1Tesalonika 5:14; Roma 15:1). Karena alasan inilah justru kita tidak bisa secara sembarangan mengemukakan hal-hal rohani, apalagi jikalau problema yang dikemukakan adalah non-spiritual. Sebagai konselor spiritual kita bisa menanyakan misalnya, "Bagaimana keadaan rohani Anda akhir- akhir ini?" dan ini seringkali sudah membukakan jalan pada problema rohani yang tersembunyi. Kadang-kadang konselor mempunyai kesempatan untuk memperkenalkan Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, bahkan seringkali sebagai konselor kita juga berdoa atau membaca satu bagian dari firman Tuhan. Konseling macam ini akan membawa seseorang masuk dalam kehidupan yang lebih dapat dinikmati (Yohanes 10:10), bahkan mengalami kehidupan kekal di surga (Yohanes 3:16).

Memang harus disadari, bahwa seringkali hal-hal rohani dipakai oleh konsele sebagai topeng untuk menyembunyikan problema yang sebenarnya. Para pasien di rumah-rumah sakit jiwa misalnya, seringkali membicarakan dosa yang tidak terampuni yang telah mereka lakukan, meskipun sifat dari problema itu sendiri mungkin jauh lebih dalam daripada itu. Kadang-kadang konsele lebih banyak bertanya mengenai hal-hal teologia supaya ia sendiri tidak perlu menceritakan mengenai problema yang sebenarnya ia hadapi.

Di pihak lain, ada orang yang seringkali mengalami kesulitan dan problema justru karena ia menyembunyikan pergumulan dan kebutuhannya akan hal-hal rohani. "Saya tidak dapat konsentrasi dalam belajar" seolah-olah menunjuk pada problema akademis, tetapi dapat juga merupakan indikasi kemunduran iman yang seringkali menguras banyak energi. Fakta, bahwa ia memilih seorang konselor Kristen, sadar atau tidak sadar, mungkin merupakan indikasi ia membutuhkan hal-hal rohani.

Adalah hal yang harus selalu disadari oleh para konselor, yaitu bahwa setiap persoalan manusia selalu menyangkut hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

5. GROUP-KONSELING

Group-Konseling atau Konseling Kelompok juga pernah digunakan oleh Tuhan Yesus dalam menolong orang-orang. Tentu kita masih ingat tentang pertemuan Yesus dengan dua orang dalam perjalanan-Nya ke Emaus; akan pembicaraan-Nya dengan Petrus, Yohanes, dan Yakobus; akan diskusi-diskusi yang menyangkut keduabelas murid-Nya. Dalam jemaat yang mula-mula orang-orang bertemu dalam kelompok-kelompok untuk belajar, bersekutu, merayakan perjamuan kudus dan berdoa. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut mereka percaya bahwa Allah juga hadir di antara mereka (Kisah Para Rasul 2:42-47). Selain itu mereka juga membicarakan persoalan-persoalan mereka dan saling tolong menolong dalam kebutuhan mereka. Pada perkembangan berikutnya, kelompok-kelompok tersebut dibagi menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil lagi, bahkan gereja-gereja belakangan ini juga membagi jemaatnya menjadi grup-grup yang lebih kecil lagi untuk membagikan pengalaman masing-masing, bersaksi, berdoa (Yakobus 5:16) dan mempelajari firman Tuhan bersama.

Konseling Kelompok memiliki keunikan tersendiri, dimana konselor membimbing sekelompok orang untuk saling bekerjasama membagikan perasaannya secara jujur, saling belajar dari pengalaman masing- masing, saling mendukung, saling menasehati dan menolong satu sama lain.

Konseling Kelompok juga dapat terbentuk tanpa bimbingan konselor misalnya dengan PA bersama, aktivitas bersama, kelompok doa, dan kegiatan-kegiatan gereja lainnya. Para anggota dalam kelompok- kelompok tersebut diberikan kesempatan untuk saling membagikan pengalaman, kebutuhan dan perhatian satu sama lain.

Sukses tidaknya Konseling Kelompok ini tergantung dari partisipasi para anggotanya. Jika anggota mau saling terbuka, tidak takut untuk memberi dan menerima pertolongan, akan lebih mudah bagi kelompok tersebut untuk dapat mengatasi kesulitannya. Namun, pengakuan secara terbuka ini biasanya tidak mudah untuk dilakukan terutama jika anggota berasal dari jemaat yang kecil yang saling kenal dan tinggal berdekatan.

Untuk memulai suatu Konseling Kelompok, Anda dapat memberikan undangan baik melalui mimbar maupun undangan perorangan. Setelah kelompok terbentuk, anggota dapat dipersilakan untuk saling memperkenalkan diri, mengungkapkan latar belakangnya, data-data pribadinya, dan mengemukakan masalahnya. Tahap ini dapat dilakukan dengan perlahan-lahan dan tanpa paksaan. Tanggung jawab konselor adalah menstimulasi diskusi dan sesekali menyimpulkan apa yang telah dibicarakan dan memberikan pengarahan agar supaya pembicaraan tidak melangkah terlalu jauh dari topik. Sharing seperti ini dapat diikuti dengan persekutuan doa. Konseling Kelompok dimana para anggotanya aktif untuk berpartisipasi "memikul pergumulan satu dengan yang lain" (Galatia 6:2) akan dapat memperkaya pengalaman, bahkan dapat menolong tiap anggota-anggotanya. Bila anggota-anggota kelompok menutup diri terpaksa harus dilanjutkan dengan konseling pribadi.

6. INFORMAL-KONSELING

Konseling dapat dilakukan dimana saja dan tidak terbatas di kantor konseling. Kita dapat melakukan konseling di ruang tunggu, di ruang pertemuan, dan di tempat-tempat lainnya. Pertanyaan-pertanyaan seperti "Apa kabar selama ini?"; "Anda kelihatan murung hari ini"; "Bagaimana kehidupan rohani Anda selama ini?"; dan pertanyaan- pertanyaan memancing lainnya bila dilakukan dengan penuh perhatian dan serius serta disertai dengan keinginan Anda untuk mendengarkan, biasanya akan mendorong orang itu untuk mengeluarkan isi hatinya.

Beberapa saran yang dapat dilakukan dalam memberikan Informal- Konseling:

  • mendengar dengan penuh perhatian.
  • menggunakan pertanyaan-pertanyaan tambahan untuk memperjelas fokus persoalannya.
  • mendorong konsele untuk menyimpulkan persoalan dan mencoba membicarakan apa yang sudah diusahakan pada masa-masa lalu.
  • memberi informasi yang dapat membantu.
  • menolong konsele mengambil keputusan tentang apa yang akan ia lakukan.
  • memberikan kepada konsele dorongan dan harapan.
  • berjanjilah pada diri sendiri, bahwa Anda akan membantu dalam doa dan benar-benar jangan lupa mendoakannya.
  • Bila memang diperlukan, Anda dapat mengusulkan pertemuan selanjutnya untuk diskusi yang lebih formal mengenai persoalan itu.

Informal-Konseling memang sepertinya tidak begitu jelas peranannya, tetapi kenyataannya sangat menolong banyak orang. Perlu diingat, konseling-konseling yang dilakukan Tuhan Yesus pada dasarnya bersifat informal dan ternyata semuanya efektif.

7. PREVENTIVE-KONSELING

Konseling tidak dibuat untuk menolong yang tertindas dan menghibur yang susah, tetapi konseling dibuat untuk membebaskan orang dari problema. Karena tujuan konseling adalah membuat orang lepas dari problema, maka ada konseling yang dibuat untuk mengantisipasi hadirnya masalah tertentu dalam kehidupan orang (Preventive- Konseling), misalnya premarital-konseling yang ditujukan untuk pasangan-pasangan yang hendak menikah agar mereka mempunyai bayangan masalah-masalah apa saja yang akan mereka hadapi dalam pernikahan dan bagaimana cara mengatasinya sedini mungkin.

Sayangnya banyak orang yang tidak begitu antusias terhadap nasehat- nasehat yang belum mereka perlukan. Oleh karena itu, cara paling baik untuk memberikan bimbingan preventif adalah melalui mimbar maupun ceramah-ceramah. Orang-orang biasanya lebih menaruh perhatian bila pengarahan diberikan dengan dasar-dasar firman Tuhan. Tidak asing lagi bagi para pendeta, bahwa mereka yang mempunyai banyak persoalan adalah mereka yang sering mangkir dari gereja atau tidak sungguh-sungguh mendengar dan mengaplikasikan firman dalam hidupnya.

Banyak konselor yang tidak menyadari, bahwa seringkali orang baru belajar setelah berbuat banyak kesalahan. Konselor kadang-kadang harus seperti "bapak" dari anak yang hilang. Kita dapat memberikan nasehat dan peringatan-peringatan, tetapi banyak konsele seperti anak-anak kita sendiri yang keras kepala dan tidak mau menurut. Mereka baru mau belajar hanya dengan melalui pengalaman jatuh bangun saja. Kita hanya dapat menyerahkan dan mempercayakan mereka dalam tangan pemeliharaan Tuhan dan mendoakan semoga mereka dapat kembali ke jalan yang benar dan dipersatukan kembali dengan keluarga mereka.

Sumber
Halaman: 
52 - 63
Judul Artikel: 
Konseling Kristen yang Efektif
Penerbit: 
Departemen Literatur SAAT, Malang, Surabaya, 1998

Komentar