Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Menjadi Sahabat bagi Suami

Menjadi sahabat buat suami berarti siap mendampingi dan siap menjadi seorang yang melengkapi. Ada hal-hal yang sangat perlu diperhatikan bagi seorang istri untuk dapat menjadi sahabat buat suami. Simak ringkasan diskusi berikut ini bersama Pdt. Dr. Paul Gunadi sebagai narasumbernya.

T: Sebenarnya apa pengertian "menjadi sahabat buat suami" secara umum?
J: Sahabat adalah seseorang yang pertama-tama akan mendampingi dan yang kedua sahabat adalah seorang yang akan bisa melengkapi.
T: Apakah itu sama dengan salah satu peran yang dipercayakan oleh Tuhan kepada istri terhadap suaminya?
J: Tepat sekali. Jadi Tuhan memang memberikan peranan khusus kepada istri yaitu yang kita bisa lihat di kitab Kejadian bahwa si istri itu akan menjadi seorang penolong yang sepadan bagi suaminya. Nah memang di Alkitab tidak dijabarkan apa itu maksudnya penolong tapi saya kira melalui realitas sehari-hari kita bisa menimba dan menyimpulkan beberapa hal yang bermanfaat bagi para istri untuk mendengarnya.
T: Untuk bisa menolong, untuk bisa menjadi sahabat bagi suami, apa yang paling penting dituntut dari seorang istri?
J: Yang mendasari hal yang akan kita bahas pada hari ini adalah seorang istri harus mengerti suaminya -- mengerti karena memang seorang suami pada umumnya memiliki keunikan-keunikan yang membedakan dia dari seorang wanita. Seorang istri perlu mengerti bahwa pria menghormati wanita yang stabil emosinya. Bagi pria ketidakstabilan emosi diidentikkan dengan kelemahan kepribadian. Pria berfungsi dalam dunia yang menuntut kestabilan emosi, menuntut rasionalitas, menuntut subjektivitas, yang menuntut seorang pria mengedepankan rasionya dan mengebelakangkan emosinya. Sebab di dunia pria seorang yang terlalu dikuasai oleh emosi cenderung dijauhi dan tidak ditoleransi oleh sesama pria, bahkan bagi banyak pria seseorang yang menunjukkan emosi yang terlalu kuat menjadi seseorang yang menakutkan. Sehingga reaksi pria pada umumnya adalah tidak mau dekat-dekat dengan sesama pria yang beremosi terlalu kuat. Nah saya kira persepsi ini atau standar ini dibawa oleh pria ke dalam rumahtangganya sehingga pada umumnya pria akan keberatan kalau istrinya terlalu emosi.
T: Tapi bukankah sudah pembawaan bahwa seorang wanita itu emosional?
J: Betul sekali. Jadi memang akan ada usaha dari kedua belah pihak untuk menyesuaikan diri. Nah perempuan tidak bisa juga menyangkal kodratnya, tapi di pihak lain akan ada hal-hal yang bisa dilakukan oleh wanita misalkan:
- Yang pertama adalah wanita perlu mengupayakan untuk mengontrol emosinya sewaktu berbicara. Nah ini tidak berarti wanita sama sekali tidak boleh menunjukkan perasaannya atau emosinya yang kuat. Namun yang lebih penting adalah kalau bisa saat menunjukkan emosi si istri juga mengemukakan alasan-alasannya yang bersifat lebih logis atau rasional. Jadi ucapan-ucapan seperti "Pokoknya aku merasa begini," "Aku melihatnya begini," nah itu adalah suatu penyataan yang susah dilihat oleh pria. Jadi sewaktu wanita mengemukakan argumennya dia perlu mengemukakannya dengan rasional dan sebisanya mengontrol emosi sehingga tidak terlalu meledak-ledak atau meluap-luap. Sebab pada umumnya pria akan menjauhi wanita yang beremosi tinggi.

- Yang kedua adalah ketika seorang wanita ingin menyampaikan permintaannya dia harus membahasakannya dengan tepat. Pria peka dengan yang namanya tuntutan. Jadi sebaiknya saat wanita minta sesuatu, dia memintanya dengan cara yang halus dan sopan. Jadi sampaikan permintaannya itu dengan lemah lembut.

- Yang ketiga adalah harus konkret. Ada hal-hal yang bagi wanita sangat mudah dicerna contohnya adalah kasih. Nah wanita bisa meminta kepada pria, "Tolong kasihi aku," tapi bagi pria kata "kasihi aku," adalah kata yang sangat abstrak. Pria kurang mengerti hal yang seperti itu. Misalnya lagi, "Aku membutuhkan engkau di rumah." Nah bagi seorang pria "membutuhkan engkau di rumah" artinya diam di rumah. Tapi bisa jadi yang diminta oleh wanita bukan secara fisik berada di situ, tapi yang dibutuhkan oleh si istri misalnya membantunya untuk menangani pelajaran anak-anak, membantunya dalam memasak atau berbincang-bincang dan sebagainya. Nah itu yang dimaksud oleh wanita dengan "aku meminta engkau untuk sering di rumah". Nah jadi hal seperti ini perlu dikonkretkan, pria tidak begitu bisa memahami isi hati wanita yang bagi pria abstrak. Oleh karena itu penting bagi seorang pria mendapatkan penjelasan-penjelasan yang konkret seperti ini.

Saya akan bacakan dari Efesus 5:22-23a,

"Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat."
Jadi pada intinya kalau mau menjadi sahabat bagi seorang suami, yang terpenting adalah sungguh-sungguh mencoba menghormati dia, pikirannya, permintaannya, keinginannya. Dan sewaktu si istri mulai mengedepankan keinginan si suami, maka biasanya hal ini akan direspon secara positif oleh si suami. Jadi mulailah mengedepankan dan menundukkan diri di hadapan suami.

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
TELAGA - Kaset T074A (e-Konsel Edisi 033)
Penerbit: 
--

Komentar