Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Peran Ayah dalam Pembinaan Anak

Salah satu peran yang dituntut Firman Allah terhadap ayah adalah mendisiplin anak. Dalam materi ini diajarkan bagaimana seorang ayah berperan dalam membina anaknya sesuai dengan Firman Tuhan.

T: Tugas mendidik anak-anak seringkali diserahkan kepada istri atau ibu dari anak-anak itu. Sebenarnya apakah pola pendidikan seperti itu bisa dipertanggungjawabkan dari sudut kristiani?
J: Kalau dilihat dari sudut kristiani sudah tentu kurang begitu tepat karena Tuhan memang meminta ayah untuk terlibat. Budaya kita memang lebih memberikan tanggung jawab itu kepada para ibu, tapi yang disetujui oleh budaya belum tentu dikehendaki oleh Tuhan. Firman Tuhan dalam Efesus 6:4,
"Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan."
Ayat ini cukup menarik karena yang diperintahkan oleh Tuhan untuk mendidik anak bukanlah ibu tetapi ayah. Kata 'didik' sebenarnya berarti 'mendisiplin'. Jadi kalau diinterpretasikan dengan lebih luas, saya berkesimpulan bahwa peran mendisiplin anak-anak dan membesarkan anak secara fisik adalah tanggung jawab ayah. Namun membesarkan anak secara emosional saya simpulkan lebih berada di pundak ibu.
T: Jadi keduanya harus bekerja sama -- antara kedisiplinan dan membesarkan anak harus seimbang dan dilakukan bersama-sama. Padahal ayah seringkali waktunya habis dengan pekerjaannya, dengan kegiatan di luar, dan sebagainya.
J: Betul, jadi Tuhan memang mendisain peranan ini dengan lengkap dan sempurna. Tidak realistis jika kita menuntut ayah untuk bertanggung jawab dalam hal membesarkan anak dalam pengertian memberi makan anak, merawat, mengasuh, memenuhi kebutuhan fisiknya, dsb. Saya kira ayah akan mengalami kesulitan untuk mengatur semua itu karena dia memang sudah bekerja dari pagi sampai sore. Namun Tuhan memang meminta ayah untuk berperan dalam rumah tangga sebagai seorang pendidik atau pendisiplin.
T: Mendisiplin anak juga dipengaruhi oleh kedekatan seorang ayah dan anaknya. Soalnya secara praktek seorang ayah yang seharian bekerja, malamnya sudah lelah dan sulit sekali dia itu untuk bisa berkomunikasi, untuk bisa dekat dengan seorang anak. Pada waktu anak itu didisiplinkan, si ayah mengalami kesulitan.
J: Itu betul, jadi anak itu cenderung menerima disiplin kalau dia merasa dekat dengan orang yang mendisiplin dia. Si ayah yang otomatis akan sedikit jauh dari anak karena faktor pekerjaan tadi, memang merawankan si ayah tatkala mendisiplin anak. Maka tadi Alkitab berkata jelas, "Jangan bangkitkan amarah anakmu", artinya memang mendisiplin anak mempunyai resiko yang berkebalikan dari yang kita harapkan. Hasilnya tidak produktif malah merugikan karena membuat anak malah mendendam kepada kita. Nah, kalau anak merasa dekat dengan kita, dia akan lebih cenderung untuk menerima disiplin tersebut. Sekali lagi anak harus juga melihat apakah adil dan apakah motivasi si ayah ini benar dan baik, bukannya melampiaskan hasrat amarahnya saja.
T: Seandainya ayah itu kurang berperan di dalam pendidikan, dampak negatif apa yang terjadi pada diri si anak?
J: Dampaknya bisa banyak karena pertama-tama, anak-anak itu, apalagi anak laki, memerlukan model/contoh bagaimana dia bersikap, berpikir, bertindak, dsb. Sewaktu ayah kurang berperan meskipun secara fisik hadir di rumah tetapi dia tidak banyak bicara dengan anak-anak, tidak banyak berinteraksi dengan anak-anak, malah hanya diam-diam saja di rumah, nah si anak akan kehilangan contoh peran yang seharusnya dia dapat. Saya takut kalau ayah tidak berperan, anak akan dirugikan dalam arti dia tidak cukup menerima bahan yang diserapnya untuk menjadikan dia seorang manusia yang tangguh dan sudah pasti dia kehilangan peran model itu, ayah yang positif seperti apa, ini saya pikir kerusakan yang paling berbahaya, yang paling besar.
T: Saya melihat bahwa peran pendidikan yang harus dilakukan baik oleh istri maupun suami, baik ayah maupun ibu, sebenarnya sangat mendasar. Jadi kalaupun ayah itu sekarang diminta untuk terlibat dalam pendidikan, itu bukan sesuatu hal yang baru tetapi kita kembali kepada prinsip-prinsip dasar yang Allah sudah berikan kepada kita untuk membina suatu rumah tangga yang baik.
J: Betul, jadi yang kita mesti ingat, anak itu adalah anak kita berdua. Jadi tidak benar kalau ada prinsip: saya sebagai pria mencari uang. Engkau sebagai ibu yang mengasuh anak, membesarkan anak, dan mendisiplin anak. Budaya kita memang menganut prinsip tersebut tapi itu bukanlah pengajaran Firman Tuhan.
Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
TELAGA - Kaset T011A (e-Konsel Edisi 042)
Penerbit: 
--

Komentar