Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Mengenal Autis

Edisi C3I: e-Konsel 091 - Awas Autis!

Banyak sekali definisi yang beredar tentang Autis. Tetapi secara garis besar, Autis, adalah gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Pada anak-anak biasa disebut dengan Autis Infantil.

Schizophrenia juga merupakan gangguan yang membuat seseorang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri: berbicara, tertawa, menangis, dan marah-marah sendiri.

Tetapi, ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari Autis pada penderita Schizophrenia dan penyandang Autis Infantil. Schizophrenia disebabkan oleh proses regresi karena penyakit jiwa, sedangkan pada anak-anak penyandang Autis Infantil terdapat kegagalan perkembangan.

Gejala Autis Infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya sudah akan melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata.

Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak, digunakan standar internasional tentang autis. ICD-10 (International Classification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autis Infantil yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia. Kriteria tersebut adalah:

Untuk hasil diagnosa, diperlukan total 6 gejala (atau lebih) dari no. (1), (2), dan (3), termasuk setidaknya 2 gejala dari no. (1) dan masing-masing 1 gejala dari no. (2) dan (3).

  1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Minimal harus ada dua dari gejala-gejala di bawah ini:
    • Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai: kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak- gerik kurang tertuju.
    • Tidak bisa bermain dengan teman sebaya.
    • Tak ada empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain).
    • Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.
  2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada satu dari gejala-gejala di bawah ini:
    • Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal.
    • Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi.
    • Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
    • Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru.
  3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan. Minimal harus ada satu dari gejala di bawah ini:
    • Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan.
    • Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya.
    • Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang.
    • Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang:

  1. interaksi sosial,
  2. bicara dan berbahasa,
  3. cara bermain yang monoton, kurang variatif.

Autis bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Kanak. Namun, kemungkinan kesalahan diagnosis selalu ada, terutama pada autis ringan. Hal ini biasanya disebabkan karena adanya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan autis yang ada, seperti retardasi mental yang berat atau hiperaktivitas.

Autis memiliki kemungkinan untuk dapat disembuhkan, tergantung dari berat tidaknya gangguan yang ada. Berdasarkan kabar terakhir, di Indonesia ada 2 penyandang autis yang berhasil disembuhkan, dan kini dapat hidup dengan normal dan berprestasi. Di Amerika, dimana penyandang autis ditangani secara lebih serius, persentase kesembuhannya lebih besar.

Bila Anda membutuhkan informasi yang lebih detail tentang autis, silakan menghubungi alamat di bawah ini:

  • Pusat Pelayanan Gangguan Perkembangan Anak Fakultas Psikologi (P2GPA) Unika Soegijapranata
    Jl. Imam Bonjol 186 A, Semarang 50132
    Telp. (024) 554613

  • Perkumpulan Orangtua Pembina Anak Autistik (POPAA)
    Jl. Erlangga Tengah III/34, Semarang
    Telp. (024) 313083

  • Yayasan Autisma Indonesia
    Jl. Buncit Raya No. 55, Jakarta Pusat
    Telp. (021) 7971945 - 7991355

Sumber
Judul Artikel: 
Kumpulan Artikel Psikologi yang terdapat di Situs Angelfire

Komentar