Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Sehingga Keduanya Menjadi Satu (Bag. II)

"Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu"
(Matius 19:5-6)

Apapun yang Allah kerjakan bukannya tanpa maksud. Semua yang Allah lakukan memiliki tujuan sekalipun kita seringkali tidak mengerti tujuan itu. Maksud atau tujuan itu sering tersembunyi begitu lama. Tapi satu hal yang pasti, Ia tidak pernah menyembunyikan maksud-Nya itu untuk selama-lamanya sehingga kita tidak pernah bisa mengertinya. Ketika waktunya tiba, maka Iapun akan menyatakan maksud-Nya itu.

Ketika Allah menetapkan perkawinan antara laki-laki dan perempuan, Ia menetapkannya bukannya tanpa maksud. Ia menetapkan perkawinan karena ada yang ingin Ia sampaikan kepada kita. Bukan sekedar bersatunya laki-laki dan perempuan dalam sebuah rumah tangga, melainkan jauh dari itu. Allah sedang menggambarkan realita rohani, realita di dalam Kerajaan Alah, realita di alam-Nya sendiri, dengan sebuah perkawinan. Allah sedang menyatakan kebenaran-Nya sendiri, kebenaran di dalam Roh, lewat perkawinan antara l> LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN ADALAH SIMBOL DARI ROH DAN JIWA

Marilah kita mulai menyingkap arti sesungguhnya yang dikandung di dalam perkawinan antara pria dan wanita di dalam Kerajaan Allah. Paulus di dalam 1 Tesalonika 5:23 mengatakan bahwa manusia adalah makhluk tripartit, yakni makhluk yang terdiri dari roh, jiwa dan tubuh. "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita." Manusia adalah makhluk yang memiliki roh, jiwa dan tubuh. Keti> > Jiwa adalah perilaku atau kepribadian. Beberapa orang menganggap roh dan jiwa adalah sama, akan tetapi firman Allah membedakannya. Kata "roh" dalam bahasa aslinya adalah "pneuma" sedangkan "jiwa" dalam bahasa aslinya adalah "psuche", dua kata yang berbeda. "Psuche" berarti hidup, pikiran atau jiwa. Dari sinilah kita mengenal istilah psikologi, psikiater, dsb. Emosi, kehendak, kemauan, keinginan, pikiran merupakan fungsi dari jiwa. Semuanya ini membentuk perilaku. Jiwa atau pikiran merupakan rahim bagi > > Maka kita melihat tiga rangkaian ini: roh merupakan sumber kehidupan, jiwa merupakan alat ekspresi bagi roh dan tubuh merupakan alat ekspresi bagi jiwa. Roh membutuhkan jiwa sebagai media untuk menyatakan dirinya, dan jiwa membutuhkan tubuh untuk menyatakan dirinya. Jadi urut-urutannya adalah roh ® jiwa ® tubuh.

> Setiap bahasa di dunia ini memiliki tiga pengelompokan kata, yaitu kata yang masuk dalam kelompok berjenis kelamin laki-laki, berjenis kelamin perempuan dan netral. Kata karyawan, misalnya, menunjukkan berjenis kelamin laki-laki, karyawati berjenis kelamin perempuan, dan kantor adalah netral. Siswa menunjukkan berjenis kelamin laki-laki, siswi berjenis kelamin perempuan dan sekolah adalah netral. Demikian juga di dalam Alkitab kita menjumpai kata roh masuk dalam kelompok laki-laki dan jiwa masuk dalam > > Sekarang marilah kita melihat tentang jiwa. Di dalam 1 Petrus 1:13 firman Allah berkata: "Sebab itu siapkanlah akal budimu (mind - pikiran)." Di dalam terjemahan KJV ayat ini berbunyi: "Wherefore gird up the loins of your mind." Kata "loins" menunjuk pada alat reproduksi perempuan atau rahim. Maka ayat tersebut jika diterjemahkan apa adanya akan berbunyi: "Sebab itu siapkanlah rahim dari pikiranmu." Pikiran memiliki rahim? Itulah yang dikatakan oleh firman Allah. Dengan demikian pikiran atau jiwa masuk> > Dengan dasar pengertian ini, sekarang marilah kita kembali ke kitab Kejadian, kitab yang pertama dari Perjanjian Lama, karena di sinilah terdapat asal mula segala sesuatunya. Di kitab Kejadian ini kita semua sudah tahu bahwa Allah menciptakan Adam dan Hawa dan menempatkan mereka di Taman Eden. Dengan pengertian yang sudah kita pelajari di atas, maka kita melihat bahwa Adam di Taman Eden merupakan simbol dari roh dan Hawa simbol dari jiwa.

> Hawa adalah penolong yang sepadan yang diberikan oleh Allah kepada Adam. "Aku akan menjadikan penolong baginya (Adam), yang sepadan dengan dia" (Kejadian 2:18). Hawa dijadikan Allah sebagai penolong yang sepadan bagi Adam. Sepadan berarti cocok, sesuai, selaras. Maka Adam dan Hawa adalah dua makhluk yang cocok, sesuai, selaras, harmonis. Tidak ada perselisihan atau pertentangan atau perbedaan pendapat di antara mereka. Mereka bersama-sama duduk berdampingan dengan manis. Tidak ada superioritas di sini.>

> Inilah sebuah gambaran yang jelas dan terang tentang keadaan roh dan jiwa sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Roh dan jiwa duduk berdampingan, harmonis. Jiwa tidak pernah menentang roh dan roh tidak pernah memerintah atas jiwa. Jiwa sepenuhnya menjadi alat ekspresi bagi roh. Ingatlah, roh tidak dapat mengekspresikan dirinya sendiri tanpa jiwa. Roh membutuhkan penolong untuk mengekspresikan dirinya sendiri dan penolong itu adalah Jiwa. Jiwa menjadi media bagi roh untuk mengekspresikan dirinya dan>

> Tapi ceritanya tidak berhenti sampai di situ. Pada pasal ketiga dari kitab Kejadian sesuatu yang tragis terjadi. Seekor ular mulai menggoda Hawa. Sang ular mendekati Hawa dan berbisik: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" (Kejadian 3:1). Seekor ular sedang mencoba merayu Hawa. Yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa ular mendekati Hawa bukannya Adam? Bukankah dengan menaklukkan Adam maka ular ini akan mendapatkan Hawa juga? Tetapi mengapa Hawa yang>

> Sang ular tidak dapat menaklukkan Adam karena keduanya (ular dan Adam) memiliki substansi yang sama yaitu roh. Ingatlah bahwa Adam adalah simbol dari roh dan ular juga simbol dari roh Iblis. Roh Iblis membutuhkan media untuk menyatakan dirinya dan media itu harus jiwa. Itu sebabnya roh Iblis berbicara kepada Hawa, sang Jiwa, bukan kepada Adam, untuk MENANAMKAN BENIHNYA ke dalam diri Hawa (jiwa) agar supaya termanifestasi melalui perbuatan. Dan Hawa menerimanya! Hawa bersedia untuk menjadi "penolong yan>

> Sobat, tahukah engkau bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami terletak pada alam jiwa/pikiran kita? Di situlah roh Iblis sering membisikkan berbagai macam ide pikiran, baik yang positif maupun negatif. Ketika engkau sedang dicobai oleh Iblis, apakah engkau melihat makhluk bertanduk dan berwajah menyeramkan dengan memegang trisula berdiri di depanmu? Tentu saja tidak, bukan? Iblis mencobai kita di dalam pikiran kita. Iblis mencobai kita di dalam jiwa kita. Di pikiran inilah Iblis sering dan senantiasa>

> Dicobai bukanlah dosa. Banyak anak Tuhan yang merasa dirinya terus menerus berdosa oleh karena di dalam pikirannya sering muncul pikiran-pikiran yang tidak dikehendaki. Pikiran-pikiran kotor datang silih berganti. Pikiran yang tidak-tidak selalu menerobos masuk. Pikiran-pikiran yang najis datang tanpa diundang. Kalau sudah begitu, anak Tuhan ini merasa tidak dapat hidup kudus, dan sepanjang hidupnya diisi dengan perasaan bersalah sehingga harus selalu minta ampun kepada Allah setiap saat. Menjadi seper>

> Ketika Iblis berbicara kepada Hawa, Iblis sedang mencoba untuk menggunakan Hawa sebagai media untuk memanifestasikan dirinya. Hawa kemudian menjawab: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati. Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu a>

> Hawa telah mengubah peranan. Ia tidak lagi menjadi penolong yang sepadan bagi Adam, melainkan bagi sang Ular. Kesepadanan dengan Adam hilang, sebaliknya tercipta kesepadanan baru dengan Ular. Hawa "cerai" dari Adam dan kawin dengan Ular. Bukan perceraian secara fisik tetapi secara rohani.

> Kawan, di mana tidak ada lagi kesepadanan akan terjadi perceraian. Kesepadanan menghasilkan unity sedangkan ketidaksepadanan menghasilkan perceraian. Di mana terdapat kesepadanan, maka dua menjadi satu. Sebaliknya, di mana terdapat ketidaksepadanan, maka dua tetap dua, bukan satu. Maka, ketika terjadi ketidaksepadanan, ketidakcocokan, ketidakselarasan, ketidaksesuaian, ketidakharmonisan di dalam sebuah perkawinan, sesungguhnya secara rohani telah terjadi perceraian. Jika perceraian secara rohani ini di>

> Tetapi mengapa isteri yang harus tunduk kepada suami, bukan suami kepada isteri? Itu karena Allah sedang menggambarkan realita di dalam Kerajaan Allah, realita yang lebih tinggi, dan realita itu adalah "hai jiwa, tunduklah kepada Roh." Di mana terjadi pemberontakan dari jiwa, maka Allah memberikan otoritas yang lebih tinggi kepada Roh untuk menaklukkannya. Itu sebabnya Allah memberikan otoritas yang lebih tinggi kepada suami, simbol dari Roh, untuk menjadi kepala rumah tangga dan dengan demikian ister>

> Pada bagian berikutnya (bagian 3) saya akan mengungkap dampak yang harus ditanggung oleh seluruh umat manusia oleh karena persatuan (unity) antara Hawa dan Ular. Dampak ini begitu dahsyat dan telah mencengkeram umat manusia sepanjang sejarah manusia tanpa kecuali, baik mereka yang dilahirkan di bawah jembatan maupun di istana. (Bersambung).

Philipus Budiarjo" (philipus@cpci.co.id)
 
Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
Milis Ayah Bunda
Penerbit: 
--

tinggal dengan mertua

dear author,
"Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu"
(Matius 19:5-6)

pada ayat itu kan disebutkan jika saat menikah laki2 harus meninggalkan ayah dan ibunya, saya sedang bergumul hebat tentang hal ini. calon suami saya adalah putra tunggal and ortunya menginginkan dia untuk tetap tinggal dirumah setelah menikah. sebenarnya tadinya ortunya oke saja kalau mau keluar rumah (tapi tetap menunjukkan sedikit keberatan) tapi berhubung biaya saya dan calon memutuskan oke tinggal dirumah. tapi setelah lama2 saya perhatikan calon suami mengapa jadi makin anak mami, apa2 selalu tanya mami. kadang saya merasa diduakan. dan sepertinya jika dia sudah tanya kemaminya keputusan dari maminyalah yang diambil drpada keputusannya sendiri. dari sini saya berpikir mungkinlebih baik keluar rumah saja. saya melihat calon suami hidupnya bener2 nyaman, bagi saya lebih baik tinggal dirumah sederhana dari pada tinggal dengan mertua tetapi suami jadi tidak berfungsi. tapi saya harus bagaimana ketika saya minta untuk keluar dia marah. dan dia merasa saya sudah mengecewakan maminya. saya jadi mikir untuk menikah tapi tinggal 4 bulan lagi sudah hari H. nga mungkin untukdbatalkan lagi. yang sekarang saya bisa lakukan cuma berdoa supaya calon suami bisa meninggalkan zona nyamannya dan supaya maminya bener2 rela ditinggalkan anaknya. toh saya jug abilang cari tempat tinggalnya yg dekat dengan rumah maminya saja. saya bener2 bingung kenapa mendekati hari H calon bener2 berubah.

Komentar