Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bekerja Sebagai Mitra Allah

Edisi C3I: e-konsel 274 - Panggilan Bekerja

"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." (Kejadian 1:1) Demikianlah Alkitab sejak ayat pertama memproklamirkan bahwa Allah adalah Sang Pekerja. Selama 6 hari penciptaan, Dia giat dan sibuk bekerja. Ia bersabda, mencipta, melengkapi, serta memperindah pekerjaan-Nya dengan hasil yang Dia nilai baik (Kejadian 1:10,12,18,21,25). Semuanya menyenangkan hati-Nya pada akhirnya (Kejadian 1:31).

Pemazmur menyanyi dan mengumumkan: "Sesungguhnya Tuhan tidak terlelap dan tidak tertidur." (Mazmur 121:4) Tuhan aktif senantiasa (bekerja) memelihara hidup umat-Nya: "ia menjaga keluar masuk mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya." (Mazmur 121:8)

Yesus pun mengatakan: "Bapa-Ku bekerja hingga sekarang, maka Aku pun bekerja juga." (Yohanes 5:17) Roh Kudus bekerja, termasuk melalui pemberian anugerah-Nya kepada kita (1 Korintus 12:10). Paulus sendiri mengakui karya Roh Kudus dalam pekerjaannya (1 Tesalonika 1:5).

Kesimpulannya: Alkitab adalah sebuah kisah panjang tiada tara tentang karya dan perbuatan Allah yang besar bagi manusia. Allah kita adalah Sang Pekerja Agung.

Alkitab juga menunjukkan bahwa Allah bekerja dengan spektrum pekerjaan yang luas. Mulai dari yang kita kenal sebagai pekerjaan kerah putih (merancang, mencipta, dan berstrategi), hingga pekerjaan kerah biru (berkebun, merawat tumbuhan, dan memelihara hewan). Bagi Allah tidak ada dikotomi antara pekerjaan sekuler dan sakral, pekerjaan otot dan pekerjaan otak, kerah biru atau putih, sebab Alkitab mengisahkan bahwa Allah menekuni semuanya.

Dalam "God the Worker: Journeys into the Mind, Heart, and Imagination of God", Robert J. Banks mengeksplorasi enam belas perbandingan alkitabiah, yang disarikan dari pekerjaan manusia untuk menggambarkan pekerjaan Allah. Di antaranya, Allah sebagai komposer dan pelaku pertunjukkan, pekerja baja, pemahat, penjahit dan penghias, tukang kebun, petani dan pembuat anggur, gembala dan pengkhotbah, tukang bangunan, arsitek, dan banyak lagi.

Lantas, apa makna semua hal di atas bagi kita, para pemercaya Alkitab?

1. Bekerja adalah hakikat manusia.

Allah Sang Pekerja Agung itu telah menciptakan manusia segambar dengan Dia (Kejadian 1:26-27). Bekerja merupakan hakikat kemakhlukan manusia, istilah antropologinya "homo faber", artinya manusia sang pembuat (maker). Dengan tangannya, manusia membuat perkakas kerja (teknologi), lalu dengan perkakas itu ia mengubah dunia dan mengubah hidupnya kemudian. Sebaliknya, manusia yang tidak bekerja, bukanlah insan yang segambar dengan Allah. Jadi, bila manusia ingin membuktikan dirinya sebagai ciptaan Allah yang segambar dengan Dia, hal itu hanya dapat dilakukannya dengan bekerja sebaik mungkin mengikuti teladan-Nya: baik motif dan modus, pola dan cara, serta siklus dan musimnya (Keluaran 20:9,11).

2. Manusia adalah mitra sekerja Allah.

Ketika Allah menciptakan manusia, Ia tidak hanya mencipta, melainkan memunyai tujuan -- agar manusia menjadi rekan sekerja-Nya di bumi (Kejadian 1:26). Bukan itu saja, Alkitab bersaksi bahwa Allah masih terus berkarya, sesudah kejatuhan manusia dalam dosa, dengan menebus dan menyelamatkan manusia serta seluruh ciptaan dari kuasa dan efek dosa. Ia terus bekerja mewujudkan karya penyelamatan-Nya sampai kesudahan zaman (Matius 28:20b). Dan, manusia dilibatkan sebagai rekan sekerja dalam semua kerja besar itu, sebagaimana Paulus mengaku: "kami adalah kawan sekerja Allah." (1 Korintus 3:9)

3. Allah tidak membeda-bedakan pekerjaan.

Allah telah berkarya dengan mengerjakan berbagai pekerjaan dengan kekhasannya masing-masing, dan itu merupakan teladan bagi manusia. Pekerjaan Allah yang demikian beragam adalah argumentasi penting untuk mengatakan bahwa Allah tidak membeda-bedakan manusia menurut pekerjaannya. Bekerja di ladang Allah tidak hanya terbatas pada pekerjaan sebagai penginjil, pendeta, dan berbagai tugas gerejawi lainnya. Allah sebagai pencipta, pemelihara, penyedia sarana, dan pemberi hukum -- hanyalah beberapa contoh atribut pekerjaan Allah yang beraneka ragam. Dengan demikian, setiap murid Kristus dengan yakin dapat berkata: pekerjaan saya adalah juga pekerjaan Allah.

4. Kesempurnaan karya Allah dalam Kristus adalah teladan kita.

Kristus dengan ketaatan yang aktif, secara sempurna telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa kepada-Nya (Yohanes 17:4). Sementara Adam dan Israel gagal melaksanakannya, Kristus melaksanakan segala sesuatu yang diperintahkan Bapa kepada-Nya dengan berhasil. Puncak karya-Nya adalah pengorbanan-Nya di kayu salib, kebangkitan-Nya dari kematian, kenaikan-Nya ke surga, dan kedatangan-Nya kelak untuk kedua kalinya, dengan demikian menyempurnakan pembangunan Kerajaan Allah di bumi.

5. Orang Kristen bekerja di dalam dan bagi Kerajaan Allah.

Semua pekerjaan harus kita lakukan untuk kemuliaan Allah dan demi perluasan Kerajaan Allah. Paulus menerapkan prinsip ini untuk semua pekerjaannya, termasuk untuk hal-hal yang sangat biasa seperti makan dan minum (1 Korintus 10:31). Dalam Kolose 3:23, ia mendesak para pembaca suratnya untuk bekerja dengan segenap hati: seperti untuk Allah dan bukan untuk manusia.

6. Kita bekerja sama dengan Roh Kudus dalam memenuhkan Kerajaan Allah di bumi.

Kristus menugaskan pengikut-Nya bekerja untuk kemajuan Kerajaan Allah sampai Dia sendiri datang kembali untuk melakukan konsumasi ultimat pada akhir zaman (Matius 28:18-20, Yohanes 17:18, 1 Petrus 2:9-10). Artinya, selain untuk memperluas Kerajaan Allah, bekerja bagi orang Kristen adalah bagian dari proses utama menuju kepada kesempurnaan kerajaan-Nya.

7. Allah dan manusia bekerja di dunia.

Gambaran Allah sebagai pekerja menunjukkan kepada kita tentang fokus pekerjaan manusia. Setelah Allah menyelesaikan karya kreatif-Nya, teks Kejadian berkata: "Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." (Kejadian 1:31) Allah melihat dunia ini baik dan Ia menciptakannya dengan baik. Maka, jika dalam beberapa tradisi, dunia material dipandang buruk dan kotor, yang selanjutnya menghasilkan pandangan negatif atas dunia fisik, dan pekerjaan yang bersifat fisik, kini kita jelas melihat bahwa Allah telah menciptakan dunia ini dengan baik, sehingga seharusnya tidak ada dikotomi antara pekerjaan jasmani dan rohani.

8. Dunia kerja adalah bagian dari Kerajaan Allah.

Dunia kerja adalah wilayah yang menyita sebagian besar waktu produktif manusia, termasuk orang Kristen. Ini berarti dunia kerja adalah bidang kontak yang penting bagi perluasan Kerajaan Allah. Rata-rata manusia menghabiskan 88.000 jam hidupnya untuk bekerja, sejak awal hingga pensiun. Oleh karena itu, dunia kerja adalah wilayah yang sangat penting. Dengan selalu mengingat hakikat Allah Sang Pekerja, jelaslah Allah sangat tertarik pada pekerjaan kita, bahkan mengandalkan semua pekerjaan Kristen untuk mencapai tujuan-Nya. Ia hadir dan memberkati kita pada saat bekerja. Allah juga memahami kemungkinan munculnya rasa kecewa dan frustrasi dalam bekerja, sehingga Allah Sang Pekerja Agung itu hadir untuk membantu dan memberdayakan kita menjadi pemenang.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Teologi Kerja Modern dan Etos Kerja Kristiani
Judul bab : Teologi Kerja Kristiani
Judul asli artikel : Allah Sang Pekerja Agung
Penulis : Jansen Sinamo dan Eben Ezer Siadari
Penerbit : Institut Darma Mahardika, Jakarta 2011
Halaman : 13 -- 17

Komentar