Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Manfaat Karunia Rohani

Menggunakan karunia rohani akan memberi manfaat bagi Anda secara pribadi, bagi gereja, dan bagi kerajaan Allah. Mari kita perhatikan beberapa di antaranya.

Manfaat secara Pribadi

Dengan mengenali dan memakai karunia-karunia rohani Anda, Anda akan mengetahui tanggung jawab rohani Anda. Apakah Anda rindu melakukan kehendak Allah dalam hidup Anda? Jika demikian, Anda tentu akan melakukan pemeriksaan yang teliti untuk mengenali karunia-karunia rohani Anda.

Allah sudah memberi Anda karunia-karunia rohani yang diperlukan untuk melakukan kehendak-Nya. Dengan mengenali karunia-karunia Anda dan menggunakannya dengan tepat, Anda dapat memenuhi rencana-Nya dalam hidup Anda dengan lebih baik. Karunia-karunia Anda akan membantu Anda menunjukkan apa yang harus Anda lakukan.

Jika Allah memberi Anda karunia rohani untuk menasihati, Dia menghendaki Anda untuk menasihati.

Jika Allah memberi Anda karunia rohani untuk mengajar, Dia menghendaki Anda untuk mengajar.

Jika Allah memberi Anda karunia rohani untuk menolong, Dia menghendaki Anda untuk menolong.

Jika Anda mengetahui tanggung jawab rohani Anda, pelayanan Anda akan lebih terfokus. Jika tidak, Anda akan mudah terlibat dalam kegiatan-kegiatan lain, dan mengabaikan bidang kontribusi Anda yang unik. Karunia rohani Anda menentukan ekspresi terbaik Anda.

"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:1-2)

Kita dapat mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, dengan mengenali dan mengekspresikan karunia-karunia rohani kita (Roma 12:3-8). Melayani dengan karunia-karunia Roh merupakan persembahan diri yang hidup, yang kemudian menjadi ibadah yang sejati. Melayani dengan karunia-karunia kita merupakan bentuk ibadah yang berkenan. Pelayanan ini tidak hanya mengungkapkan tujuan Allah bagi kita secara pribadi, tetapi juga menunjukkan peran kita di dalam komunitas gereja.

Selain mengenali tanggung jawab rohani Anda, pelayanan Anda akan makin menghasilkan buah dan kepenuhan hidup, jika Anda mengenali dan menggunakan karunia-karunia rohani Anda. Yesus berkata, "Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:8) Tujuan Allah adalah supaya kita berbuah. Jika kita tidak berbuah, itu bukan kesalahan Allah. Kemampuan ilahi (atau karunia rohani) membuat kita mampu memberikan hasil, yang tidak saja memuliakan Allah, tetapi juga memberkati orang lain.

Di beberapa ayat berikutnya Yesus berkata, "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh." (Yohanes 15:11) Yesus bukan saja mengharapkan kita berbuah, Dia juga ingin kita mengalami sukacita penuh. Jika kita melayani dengan karunia-karunia rohani, kita kemungkinan besar akan berbuah lebat dan mengalami kepenuhan. Pengalaman-pengalaman pelayanan kita akan memberi kepuasan kepada diri kita karena ada jaminan bahwa kita sedang membuat perbedaan bagi kerajaan Allah, dan berkenan kepada Allah.

Manfaat bagi Gereja

Kesatuan dan keharmonisan lebih nyata di gereja-gereja yang mengajarkan dan mengembangkan pelayanan berdasarkan karunia. Kekacauan dan ketidakharmonisan terjadi di gereja-gereja yang kurang menghargai kontribusi unik setiap individu. Kita sering memandang keberbedaan orang lain sebagai penghalang. Namun, Allah justru memandang hal itu sebagai kesempatan untuk saling melayani dalam berbagai hal, dan untuk memenuhi kebutuhan di gereja dan dunia.

Pernahkah Anda menghadiri rapat, yang di dalamnya orang yang satu sangat prihatin tentang siapa yang harus melakukan apa dan kapan? Orang yang lain, tampak sibuk memperhatikan orang yang paling menderita di kelompok itu. Dan orang yang lain lagi, tidak banyak bicara dan tampak agak bosan; ia hanya berharap ada yang memberitahunya tentang apa yang harus dilakukan.

Yang seorang memiliki karunia administrasi, yang lain memiliki karunia kemurahan, dan yang lain lagi memiliki karunia untuk menolong. Jika Anda memahami hal ini, Anda akan mendengarkan keprihatinan mereka, dan menerima perkataan-perkataan mereka dengan lebih penuh pengertian dan syukur.

Yesus, Kepala Gereja (Efesus 1:22, 4:15-16), sudah merancang setiap kita, anggota-anggota tubuh-Nya, untuk berperan dalam hal-hal yang akan melengkapi dan memenuhi berbagai kebutuhan tubuh. Mengenali dan memakai karunia rohani akan memperjelas rencana-rencana Allah, dan mengarahkan pelayanan kita bersama. Kita tidak lagi cenderung melihat perbedaan sebagai penghalang. Kita akan lebih bersemangat memakai karunia-karunia rohani kita sebagai kesempatan ilahi untuk memuliakan Allah dan memberkati sesama.

Gereja bukan saja akan lebih harmonis, kesombongan dan kerendahan hati yang semu pun akan berkurang di dalam gereja yang melayani berdasarkan karunia. Jika kita tidak memahami karunia-karunia rohani, kita kemungkinan akan lebih mengutamakan kepentingan pribadi dalam melayani. Kecenderungan untuk berperilaku sombong rohani tampak dalam kata-kata seperti:

"Aku sungguh ...."

"Tidakkah kaulihat apa yang ku ...."

"Aku akan ...."

"Kukatakan padamu, aku ...."

"Aku ... aku ... aku ...."

Selain itu, ada juga orang-orang yang menunjukkan semacam kerendahan hati yang semu. Mereka suka berkata bahwa pendeta, anggota paduan suara, dan guru sekolah minggu memiliki karunia rohani, tetapi celakanya mereka sendiri tidak memilikinya. Jika orang percaya tidak mengetahui cara berkontribusi yang berarti, mereka kadang berusaha mencari aman dengan berkata bahwa mereka mungkin tidak memiliki karunia rohani.

Orang-orang semacam ini menempatkan diri sebagai hamba yang rendah hati, yang tak dapat melakukan apa pun yang baik. Mereka berkata, "Aku tidak dapat bernyanyi seperti Sandy. Aku bukan aktor seperti Dani, dan aku tidak dapat mengajar seperti Teddy. Jadi, aku hanya bantu-bantu saja sebisaku." Sekalipun kedengarannya mereka rendah hati, kerendahan hati seperti ini palsu. Allah berkata bahwa setiap kita sudah diberi karunia rohani, yang harus kita gunakan (1 Petrus 4:10).

Kesombongan maupun kerendahan hati yang semu adalah akibat kelalaian. Dengan menyelidiki Kitab Suci dan memakai karunia rohani kita di dalam gereja, kesombongan kita akan menurun drastis karena kita akan memperoleh pemahaman yang benar dan tepat tentang kuasa Allah dan rencana-Nya bagi kita. Orang-orang yang memiliki kerendahan hati yang palsu pun akan mendapat pengajaran yang sehat, yang membangkitkan rasa memiliki dan tanggung jawab mereka dalam pelayanan. Mereka mungkin tidak memahami tentang karunia-karunia, atau tidak mengetahui apa saja karunia mereka; tetapi setelah mereka mengerti, mereka akan berpindah dari penonton yang acuh tak acuh menjadi peserta yang aktif. Ketika hal ini terjadi, seluruh gereja akan mendapat manfaat.

Akhirnya, kedewasaan dan pertumbuhan nyata di dalam gereja-gereja yang mengajarkan dan mengembangkan pelayanan berdasarkan karunia. Tubuh Kristus bertumbuh sehat dan kuat melalui pemakaian karunia-karunia rohani yang tepat. Jika ada bagian-bagian tubuh Kristus yang tidak berfungsi, atau tidak berperan dengan tepat, tubuh gereja tidak dapat menjadi dewasa dan bertumbuh kembang sebagaimana mestinya.

Sekali lagi, renungkanlah tentang tubuh manusia. Ketika masih bayi, untuk bisa bertumbuh normal, kita membutuhkan hati, paru-paru, jantung, dan organ-organ tubuh lain yang berfungsi dengan baik. Jika tiap-tiap bagian melakukan kontribusinya dengan tepat, tubuh menjadi makin kuat, anak menjadi dewasa dan dapat memenuhi tanggung jawabnya. Jika satu, dua, atau lebih banyak organ tubuh yang tidak berfungsi dengan baik, tubuh tidak akan dapat mendengar, berjalan, atau bahkan mungkin bernapas.

Demikian pula halnya dengan gereja, tubuh Kristus, "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya." (1 Korintus 12:27) Apabila satu, dua, atau lebih banyak lagi dari kita yang gagal melakukan bagian kita, gereja tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pernahkah Anda merasa sepertinya gereja Anda lumpuh? Pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah "Apakah aku sendiri sudah melakukan kontribusiku dengan tepat?" Sudahkah Anda mengenali karunia rohani Anda? Apakah Anda memakainya? Tempat terbaik untuk memulainya adalah diri Anda sendiri.

Manfaat bagi Kerajaan Allah

Allah dimuliakan dan banyak orang diberkati di dalam gereja yang mengajarkan dan mengembangkan pelayanan berdasarkan karunia. Allah ditinggikan dan disenangkan jika karunia-karunia pemberian-Nya digunakan untuk memuliakan-Nya, lewat melayani orang lain. Yesus mau kita memperhatikan perbuatan-perbuatan yang membuat orang memuliakan Bapa di surga (Matius 5:16). Jika karunia-karunia rohani diekspresikan dengan tepat, orang akan melihat motivasi si pelayan dalam melayani orang lain. Karena tindakan pelayanan semacam itu hanya akan muncul dari hati yang sudah benar-benar diubahkan oleh Allah yang pengasih, peduli, dan penuh anugerah. Tindakan ini benar-benar akan menunjukkan kasih Allah kepada dunia.

Kita harus mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Inilah inti seluruh relasi kita dengan Allah dan satu sama lain, sebagaimana dinyatakan dalam Sepuluh Perintah Allah (Keluaran 20:1-17), dan Hukum Kasih (Matius 22:37-40). Karunia-karunia rohani adlaah untuk kebaikan bersama; dan sementara kita menggunakannya, segala sesuatu harus dilakukan untuk mendatangkan kebaikan bagi gereja. Karunia rohani memberi kita tujuan, seperti halnya Roh Kudus memberi kita kuasa untuk memuliakan Allah dan memberkati sesama.

Allah punya tujuan dengan karunia-karunia rohani Anda. Apakah Anda mengetahui karunia rohani Anda? Bagaimana Anda bisa benar-benar mengetahuinya? Inilah pertanyaan bijak yang perlu ditanyakan, "Apa sajakah karunia rohaniku?" Sementara itu, marilah kita memohon pertolongan Allah dalam hal yang sangat penting ini.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli buku : Serving My Best
Judul buku terjemahan : What You Do Best in the Body of Christ?
Judul bab : Apa yang Dimaksud dengan Karunia Rohani?
Penulis : Bruce Bugbee
Penerjemah : Okdriati S. Handoyo
Penerbit : Gloria Graffa, Yogyakarta 2010
Halaman : 44 -- 50

Komentar