Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Menerima dan Memberikan Kasih Allah

Kasih Allah adalah motivasi utama bagi pertumbuhan dan perubahan. Menerima kasih Allah dan menaati "hukum yang terutama" (Matius 222:36) adalah landasan utama dalam bimbingan maupun konseling.

Dalam bimbingan/konseling, kasih Allah menjadi kunci pertolongan dan kekuatan. Kasih Allah menjadi alasan kita mengasihi Allah. Jika kita meminta konseli kita untuk mengasihi Allah tanpa kita memercayai dan menerima kasih Allah, konseli kita mungkin akan jatuh ke dalam kedagingan. Ia berusaha mengasihi Allah supaya Allah mengasihinya. Kasih Allah yang diberikan dengan berbagai cara dan ditunjukkan secara dramatis melalui pengorbanan Kristus, menembus kegelapan ketidakpercayaan.

Allah benar-benar mengenal dan mengasihi kita. Kasih-Nya tidak bersifat sentimental atau berubah-ubah, melainkan dapat diandalkan dan setia. Bila seseorang sadar bahwa dia dikasihi Allah dan orang lain, ia akan lebih menurut kepada pimpinan Roh Kudus daripada hidup menurut daging. Memercayai dan menerima kasih Allah penting sekali bagi kehidupan Kristen. Ketika mengajarkan kasih Allah, pembimbing/konselor harus menekankan segi-segi sifat Allah yang perlu diketahui oleh konseli. Kasih Allah sanggup menopang, menguatkan, dan menjelaskan setiap segi dari sifat-Nya. Pengajaran tentang kasih-Nya akan meliputi pengajaran tentang kedaulatan, kekuasaan, kasih karunia, rahmat, pengampunan, kesabaran, dan kelemah-lembutan-Nya. Konseli perlu mengetahui dan mengalami kasih Allah melalui iman.

Banyak orang menderita karena memunyai konsep yang salah tentang Allah. Ia tidak dapat mengalami kasih karunia-Nya. Ada orang berusaha mendapatkan kasih-Nya, ada pula yang memandang diri sendiri dan merasa tidak layak mendapat kasih-Nya. Mereka tidak mengerti bahwa mereka dikasihi karena kasih karunia, bukan karena perbuatan baik -- berdasarkan salib Yesus dan bukan kebajikan pribadi mereka sendiri. Ada juga yang menyalahkan Allah atau orang lain dalam jangka waktu yang lama sehingga mereka menuntut bukti akan kasih Allah dalam situasi dan perasaan mereka. Padahal dengan begitu, mereka menjadi hakim terhadap Allah, dan meskipun mereka takut akan kuasa-Nya, mereka tidak percaya bahwa Ia dapat dipercaya. Orang-orang seperti itu, hidup dalam ikatan ketidakpercayaan dan telah menganggap diri mereka sendiri sebagai allah. Mereka tidak memahami bahwa kasih Allah tidak akan melanggar kehendak-Nya, yang selalu baik dan sempurna. Tidak seorang pun dapat mengerti kasih Allah dengan melihat diri sendiri atau situasinya. Cara yang paling efektif untuk melihat dan memercayai kasih Allah ialah dengan memandang salib Kristus (Roma 5:6-8).

Kasih Allah begitu besar sehingga Ia bersedia membayar lunas harga dosa manusia untuk menyampaikan dan menyatakan kasih-Nya dan hidup-Nya kepada umat manusia. Kasih merupakan kebenaran yang terpenting bagi orang Kristen; meskipun demikian, kata kasih telah dirusak dan diperlemah. Karena itu, orang Kristen perlu memandang kasih secara terus menerus sesuai dengan ajaran Alkitab dan penyataan kasih Allah yang ditunjukkan melalui Yesus. Kasih alkitabiah jauh dari paham sentimental. Kasih alkitabiah berkuasa dan lembut. Inilah kasih yang tidak akan menyimpang dari kebenaran atau keadilan dan kebajikan. Gambaran terlengkap tentang kasih dalam Alkitab terdapat di 1 Korintus 13. Gambaran ini merupakan gambar paling tepat bagi Yesus dan kehidupan Roh Kudus yang mendiami seorang konselor/pembimbing sehingga memunyai kasih yang sama. Kasih seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh seorang konselor Kristen. Selain itu, semua bimbingan harus sedapat mungkin cocok dengan gambaran kasih ini. Sebab, kasih semacam ini memberikan kehidupan kepada orang yang dibimbing. Ketika kasih seperti ini diberikan kepada konseli oleh Tuhan dan konselor, dan saat kasih itu diterima oleh konseli maka perubahan akan terjadi. Hasilnya, konseli akan bertumbuh secara emosional dan rohani sedemikian rupa sehingga mencerminkan Allah dan menghadapi tantangan hidup.

Karena kasih Allah merupakan segi kehidupan Kristen yang begitu penting dan mendalam, konselor perlu menghabiskan banyak waktu untuk berdoa bagi konselinya agar ia mengenal, memercayai, dan menerima kasih Allah. Seperti nasihat Paulus bagi jemaat Efesus (Efesus 3:14-19).

Kasih Allah mengalir melalui salib Kristus supaya manusia dapat masuk kembali ke dalam hubungan yang dimaksudkan Allah dan supaya Ia dapat masuk ke dalam kehidupan seseorang untuk memberikan kepada orang itu segi-segi dari sifat-Nya, yakni kesucian, kebajikan, kebenaran, iman, tanggung jawab moral, kasih, pengampunan, dan belas kasihan. Suatu pengertian tentang sifat Allah merupakan langkah awal dalam mengenal Dia, mengalami kasih dan kehidupan-Nya, menjadi saluran bagi sifat-Nya, dan bertumbuh menjadi serupa dengan Dia. Hanya kasih Allah yang dapat membalikkan akibat kejatuhan dalam dosa dan memampukan manusia untuk percaya kepada-Nya, bertindak secara bertanggung jawab sesuai dengan iman kepada-nya dan mengasihi Allah dalam ketaatan.

Menaati Hukum yang Terutama

Karena hubungan kasih dengan Allah merupakan inti kekristenan, kasih kepada Allah merupakan tanggapan yang terpenting. Kasih kepada Allah merupakan dorongan kekuatan hidup sesuai dengan kehendak Allah. Untuk itu, "hukum yang terutama" adalah pusat bagi bimbingan alkitabiah/konseling Kristen.

"Hukum yang terutama" didasarkan pertama-tama pada kasih Allah bagi manusia. Rasul Yohanes menulis, "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" (1 Yohanes 4:10). Hukum untuk mengasihi Allah menetapkan respons orang percaya terhadap kasih Allah. Pilihan perubahan yang mendasar dan hakiki bagi orang Kristen adalah memberi respons secara aktif terhadap kasih Allah dengan memercayai kasih-Nya dan dengan mengasihi Allah dengan segenap kehidupannya, termasuk pikiran, perasaan, dan tindakan. Manusia diciptakan bagi hubungan kasih dengan Allah dan agar menjadi saluran kasih satu kepada yang lain. Sebelum seseorang bergerak dalam hubungan ini, ia tidak akan mengalami keharmonisan dengan hidupnya sendiri.

Mengasihi Allah itu lebih daripada sekadar tanggapan emosional dari perasaan mengasihi. Mengasihi adalah suatu aktivitas yang melibatkan seluruh pikiran, kehendak, hati, dan kekuatan seseorang. Oleh karena itu, perlu dipraktikkan setiap saat. Dalam membicarakan cara-cara seseorang mengasihi Allah, konselor pertama-tama perlu menekankan pentingnya beriman dan menaruh percaya kepada Allah. Tanpa iman, seseorang tidak akan berkenan kepada Allah (Ibrani 11:6). Sementara itu, kasih akan Allah dinyatakan melalui keinginan untuk menaati kehendak-Nya. Kasih Allah benar-benar suatu sumber kehidupan dan kuasa ilahi yang memampukan orang percaya untuk hidup sesuai dengan tujuan Allah menciptakan dia -- dalam hikmat, penyerahan kepada Allah, kerendahan hati, kuasa, iman, pengharapan, dan kasih. Di dalam tanggapan inilah timbul penyerahan diri. Yesus memberikan hidup-Nya kepada setiap orang percaya karena kasih. Maka dari itu, sebagai tanggapan terhadap kasih itu, orang-orang percaya sepatutnya menyerahkan dirinya kepada Allah (Roma 12:1-2).

Pemberian dan penerimaan seperti itu menyebabkan timbulnya perubahan. Ketika seorang percaya menyerahkan dirinya kepada Roh Kudus, ia semakin lama semakin serupa dengan Yesus (Matius 16:24-25). Kasih akan Allah mungkin juga dinyatakan melalui sikap menghormati Dia sebagai Allah, lebih memercayai Dia dibanding siapa pun dan apa pun. Satu cara praktis lain dari mengasihi Allah yaitu dengan berterima kasih kepada-Nya. Ajaklah konseli untuk mendaftarkan semua hal yang patut disyukuri. Dengan begitu, kita akan dibawa dari keadaan-keadaan yang sukar dan negatif pada perspektif yang suci. Dengan mendekat kepada Allah kita bisa merasakan kehadiran-Nya yang sangat berharga dan mensyukuri kebaikan-Nya.

Cara mengasihi Allah yang paling mendasar adalah tinggal di dalam Dia, bergantung kepada-Nya sebagai sumber kehidupan dan pelayanan, dan memilih untuk tidak bertingkah laku lepas dari Dia. Mengabaikan hidup Allah dalam diri seorang percaya sama saja dengan melakukan ketidakadilan yang sangat besar terhadap Dia, tetapi hidup dalam persekutuan dengan kehadiran-Nya sama dengan mengasihi-Nya. Kebergantungan kepada Tuhan menunjukkan kerendahan hati, sikap seperti itu berarti lebih mengakui dan memuliakan Allah daripada mengakui dirinya. Ketika seorang pembimbing/konselor mengajarkan prinsip-prinsip ini untuk mengasihi Allah, ia akan mampu menyesuaikan prinsip-prinsip tersebut dengan bidang-bidang kebutuhan konseli. Meskipun sebagian konseli bertindak menurut kemauan dirinya karena memunyai kepribadian yang kuat, yang lain berbuat demikian karena mereka tidak mengerti prinsip-prinsip hidup dalam Roh dan hubungan kebergantungan kepada Tuhan adalah proses bertahap yang berkembang dengan pengalaman.

Cara membimbing konseli agar bisa mengasihi Allah adalah dengan memercayai kasih-Nya, sekalipun perasaan mereka tidak menegaskan kasih itu. Perasaan tidak selalu seiring dengan kebenaran kasih Allah yang konstan. Karena itu, seorang konselor boleh menyarankan bahwa mengingat kenyataan kasih Allah dan memberi tanggapan terhadap kebenaran itu akan menguatkan kemampuan orang itu untuk menerima kasih Allah maupun untuk membalas kasih-Nya. Cara lain bagi konseli untuk menegaskan hubungan kasih adalah menceritakan kepada orang lain tentang kesetiaan, kebaikan, dan kasih Allah dalam kehidupan pribadinya. Sebenarnya, seorang pembimbing/konselor boleh bertanya, "Dalam cara-cara apakah Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada Anda selama akhir minggu ini?"

Akhirnya, memercayai dan menaati Allah adalah tanda-tanda mengasihi Allah yang sangat penting. Ketaatan yang benar sebenarnya adalah hasil dari hubungan kasih (Yohanes 14:21). Meskipun Allah mengasihi lebih dulu, respons ketaatan seorang Kristen membuat kasih terus mengalir. Allah tidak pernah berhenti mengasihi, namun ketaatan memampukan seseorang untuk terus menerima kasih Allah. Karena itu, ketaatan adalah suatu tindakan kasih yang ditujukan kepada Allah.

Seorang konselor sebaiknya menganjurkan ketaatan atas dasar kasih Allah dan atas kebenaran bahwa prinsip-prinsip Allah adalah bagi kebaikan seseorang. Semua hukum Allah adalah baik. Semua kebaikan dan kebenaran berasal dari kasih Allah dan mengalir melalui kasih seseorang kepada Allah dan sesama. Kasih adalah motivasi bagi ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Allah adalah tindakan kasih.

Diringkas dari:

Judul asli buku : How To Counsel From Scripture
Judul buku terjemahan : Bimbingan Berdasarkan Firman Allah
Judul asli artikel : Menerima dan Memberikan Kasih
Penulis : Martin dan Deidre Bobgan
Penerjemah : Dra. Tan Giok Lie
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1996
Halaman : 159 -- 167

Komentar