Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Pendidikan untuk Kehidupan Emosional dan Seksual

Edisi C3I: e-Konsel 311 - Pendidikan Tentang Seks

Pendidikan untuk kehidupan emosional dan seksual berarti menolong seseorang untuk memiliki kepekaan terhadap orang lain, mau mendengarkan, mengasihi, memiliki hasrat dan kelembutan, serta mau bertanggung jawab. Pendidikan seks yang sejati membangkitkan hati dan menolong seseorang mencapai keefektifan yang matang.

Pengalaman membangkitan hati memerlukan suatu tingkat pengenalan dengan figur orang tua yang berjenis kelamin sama dengan si anak (ayah dengan anak laki-laki dan ibu dengan anak perempuan).

Anak laki-laki akan mencontoh hubungan ayah dengan ibunya. Cara sang ayah bersikap terhadap wanita, terutama istrinya, akan memberikan pendidikan seksualitas yang sangat kuat bagi putranya. Sampai batasan tertentu, hal serupa juga berlaku di keluarga yang anggota keluarganya mengalami cacat mental. Mereka akan bertindak seperti seorang asisten atau staf yang mereka sukai atau kagumi.

Melalui hubungan-hubungan semacam inilah, dan juga melalui pengenalan dengan orang dewasa, seseorang sedikit demi sedikit menemukan identitas mereka sendiri. Pendidikan seks yang sesungguhnya terjadi di dalam suatu lingkungan masyarakat, keluarga, dan dalam hubungan antara pria dan wanita, yang di dalamnya gerakan-gerakan tubuh dan sentuhan mengekspresikan sukacita dan kelembutan. Pendidikan seks tidak terjadi melalui gambar-gambar yang tidak dikenal, yang memberikan informasi yang kurang menggambarkan kebenaran. Tentu saja, sangat penting untuk mengetahui anatomi tubuh, masa subur, hubungan antara tindakan seksual dan terbentuknya bayi. Namun, tidak baik untuk menunjukkan tindakan seksual dengan menggunakan gambar atau slide, yang celakanya dilakukan juga oleh beberapa orang, karena gambar-gambar ini berisiko membangkitkan seksualitas yang terputus dari suatu hubungan.

Dalam dunia nyata, peran seorang pendidik adalah menolong remaja memahami dan menghargai fungsi-fungsi tubuh dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Ketika seseorang berpikir bahwa tubuhnya jelek, ini merupakan persoalan yang serius. Memberi konseling bagi pasangan tentu saja membutuhkan lebih banyak informasi yang tepat tentang bagaimana seorang pria dan wanita menjalani seksualitas mereka bersama-sama. Namun, penekanannya harus pada pentingnya mendengarkan dan menghormati perbedaan dalam diri pasangan. Pendidikan seks bukan sepenuhnya merupakan petunjuk praktis tentang apa yang harus dilakukan seseorang dan bagaimana melakukannya, sebagai dasar hubungan seksual yang harmonis, melainkan lebih sebagai suatu cara untuk menolong seseorang supaya merasa nyaman dengan seksualitas mereka sendiri. Hal ini mengimplikasikan sebuah pertumbuhan dalam kapasitas untuk melihat orang lain sebagai seseorang yang memiliki kebutuhan. Hal ini juga mencakup menolong orang untuk menghadapi tantangan dan kesulitan dalam hubungan. Bahkan, ini merupakan masa belajar untuk (mengenal) cinta sejati.

Di l'Arche, saya memerhatikan bahwa sering kali orang yang paling membutuhkan pendidikan seks adalah para asisten. Mereka telah terpengaruh oleh media massa yang menyepelekan seksualitas dan tidak dapat memahami pentingnya seksualitas yang sebenarnya. Mereka tidak tega dengan jeritan kasih sayang dari orang-orang yang mengalami cacat mental; mereka tidak tahu bagaimana cara merespons/menanggapi perwujudan kelembutan atau, setidaknya, perwujudan seksualitas genital. Karena mereka sendiri tidak jelas akan hal ini, maka mereka tidak yakin apakah harus menyalahkan atau mengabaikan apa yang mereka lihat.

Zaman sekarang, kita membutuhkan lebih dari sekadar kesehatan moral di area hubungan seksual. Kita juga memerlukan pemahaman yang dalam tentang antropologi, yang merupakan fondasi etika manusia dan kekristenan. Penting bagi kita untuk menolong orang lain memahami, betapa hubungan seksual tanpa komitmen yang benar akan merusak hati manusia dan bahwa seksualitas harus diorientasikan, diperbaiki, dan disatukan oleh cinta, yang keberadaannya membuat seksualitas menjadi manusiawi. Penting bagi kita untuk mempelajari bahwa seksualitas semacam ini, yang matang melalui pertumbuhan biologis dan fisik, berkembang secara harmonis dan yang disadari kematangannya dari pencapaian kematangan emosi, yang diwujudkan dalam cinta yang tidak egois dan mau berkorban.

Bentuk pendidikan seks ini sama pentingnya bagi pria dan wanita yang mengalami cacat mental ringan. Bagi mereka, pengaruh film dan majalah kadang-kadang dapat menghancurkan. Media massa menstimulasi insting seksual mereka, membangkitkan khayalan-khayalan yang salah tentang "cinta". Hal ini lebih sulit bagi mereka karena hati mereka lebih rapuh daripada orang lain; juga lebih mudah menderita dan terpengaruh. Mereka harus mampu berbicara dengan seseorang mengenai pertanyaan-pertanyaan ini dan memahami apa yang harus dipertaruhkan dalam cinta sejati. Setelah itu, barulah mereka dapat membuat keputusan yang nyata.

Di area konseling dan pendidikan ini, harus ada mediator yang memiliki kepekaan dan kebaikan yang besar untuk menghadapi berbagai penderitaan, kebingungan, dan rasa sakit. Larangan yang terlalu kaku, yang dikombinasikan dengan hukuman, dapat mengakibatkan rasa bersalah dan rasa takut yang lebih besar. Hal ini mungkin dapat memperburuk pencegahan atau semakin mendorong pencarian seks secara sembunyi-sembunyi dan mendorong seseorang untuk beralih ke dalam mimpi-mimpi erotisme. Seorang mediator juga harus mengetahui batasan-batasan perannya. Kita tidak harus mengetahui segala sesuatu. Kita harus menghormati ruang pribadi dan rahasia batin seseorang. Intervensi sebaiknya dilakukan saat Anda yakin bahwa orang lain dalam bahaya. Peraturan ini selalu sama: ciptakan hubungan yang penuh kepercayaan, yang memungkinkan adanya dialog dan yang dapat menghilangkan rasa takut sedikit demi sedikit. Memang benar bahwa terkadang butuh waktu yang panjang untuk membuat hubungan ini tercapai. Hubungan ini menuntut seseorang untuk siap berkomitmen selama periode waktu tertentu dan bersedia menerima tuntutan yang dinyatakan dalam komitmen semacam ini.

Pengamalan otoritas dan larangan dalam dunia seksualitas benar-benar sulit. Bahkan, setiap pendidik atau mediator memiliki luka, kesulitan, kesengsaraan, dan pergumulan mereka sendiri-sendiri. Seorang mediator yang harus berjuang melawan kecenderungan homoseksual mungkin akan lebih keras, kurang simpatik, dan kurang memahami kecenderungan homoseksual orang lain. Kita mungkin sangat sulit untuk bersikap objektif dalam area seksualitas -- satu area yang dengan mudah dapat menonjolkan semua kebutuhan dan penderitaan seseorang. Orang-orang yang menginginkan seksualitas yang "bebas" bagi mereka sendiri mungkin mendorong orang lain kepada "kebebasan" yang sama, bukan karena hal itu dapat menolong mereka bertumbuh, melainkan untuk membenarkan dan membuktikan bahwa perilaku mereka benar. Tanpa kejelasan mengenai seksualitas dalam diri seseorang itu sendiri, tidak mungkin dia mendapatkan kejelasan dan kebenaran tentang seksualitas orang lain. Rasa takut terhadap seksualitas diri sendiri akan menyebabkan rasa takut pada seksualitas orang lain, oleh karena itu mengakibatkan kekerasan hati. Tanpa kebebasan untuk memaparkan seksualitas diri sendiri, maka bisa dipastikan akan ada kesalahpahaman terhadap seksualitas orang lain. Orang-orang yang tidak percaya pada kemungkinan pertumbuhan mereka sendiri di area ini, tidak akan percaya diri dengan pertumbuhan orang lain, malahan akan jatuh ke dalam visi yang legal dan statis. Orang-orang yang tidak mengetahui kelemahannya sendiri, tidak akan mampu mengembangkan kesabaran yang dibutuhkan untuk menolong orang lain untuk berkembang dan mengintegrasikan seksualitas mereka dalam hubungan mereka. (t/Berlian)

Diterjemahkan dari:

Judul asli buku : Man and Woman He Made Them
Judul bab : Education and Its Demands
Judul asli artikel : Education for Emotional and Sexual Life
Penulis : Jean Vanier
Penerbit : Darton, Longman and Todd Ltd, London 1985
Halaman : 44 -- 46

Komentar