Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Prinsip-Prinsip Praktis Mengendalikan Amarah

Edisi C3I: e-Konsel 156 - Mengolah Emosi

Memang baik jika kita mengerti apa itu amarah, penyebabnya, bermacam-macam respons terhadapnya, penyataan Alkitab, reaksi yang sehat dan tak sehat, dan sebagainya. Namun lebih dari itu, apa yang Anda lakukan terhadap perasaan marah saat Anda mengalaminya sendiri.

Sebagai ringkasan, ada sepuluh prinsip praktis untuk menghadapi perasaan marah dan mengendalikannya.

Camkanlah selalu bahwa sebagai orang Kristen, kita tidak dapat mengendalikan amarah (atau masalah lain) dengan mengandalkan kekuatan sendiri! Kita harus bersandar pada bimbingan dan kekuatan Roh Kudus. Dan bimbingan Roh Kudus paling dibutuhkan jika seseorang merasa dirinya baik tetapi sekaligus sedang marah.

Inilah sepuluh langkah praktis yang dapat Anda ambil.

  1. Sadari reaksi emosi Anda. Tanyakan pada diri sendiri, "Apa yang saya rasakan?"

  2. Kenali perasaan-perasaan Anda dan akui bila Anda memiliki perasaan tersebut. Mengakui perasaan marah tidak berarti Anda harus menyatakannya.

  3. Coba mengerti mengapa Anda marah. Apa penyebabnya? Kemarahan sering timbul karena frustrasi. Kita frustrasi karena keinginan, kerinduan, ambisi, harapan, dorongan, kehausan, atau kehendak kita. Tanyakan pada diri Anda, "Apakah saya marah karena frustrasi? Apa atau siapa penyebab frustrasi? Jalan positif bagaimana yang dapat saya pikirkan?"

    Alasan lain mengapa kita marah termasuk kemungkinan terluka, baik secara fisik maupun emosi. Rasa aman kita terancam, dan sebagai benteng pertahanan, kita marah. Adanya ketidakadilan, baik terhadap orang lain, diri sendiri, maupun masyarakat. Sering kali, amarah semacam ini disebut "marah suci" yang dapat dibenarkan. Tetapi berhati-hatilah dan jangan mengizinkan amarah Anda yang benar terhadap ketidakadilan dikacaukan oleh penyebab amarah yang mendasar, yakni sikap mementingkan diri sendiri, penyebab utama amarah pada sebagian besar manusia. Jika kita mau jujur, kita menjadi sangat marah karena tidak dapat menjalankan cara kita, dan tidak memeroleh yang kita inginkan.

  4. Dapatkah Anda membangun situasi lain sehingga amarah tidak akan timbul? Apa yang telah Anda lakukan, yang menyebabkan orang lain bereaksi sedemikian rupa sehingga Anda marah?

  5. Apakah marah adalah respons yang paling baik? Tuliskan akibat-akibat jika Anda marah. Respons apa yang paling baik? Apakah keramahan, simpati, dan pengertian dari orang lain dapat menyelesaikan masalah? Dapatkah Anda mengakui perasaan Anda kepadanya?

  6. Apakah amarah Anda terlalu cepat muncul? Jika demikian, tariklah napas dalam-dalam atau hitunglah sampai sepuluh sebelum Anda marah. Pusatkan perhatian pada kelebihan dan kualitas positif orang lain daripada kebobrokannya.

  7. Apakah Anda terlalu kritis terhadap orang lain? Apa akibatnya? Jangan terlalu curiga terhadap orang lain. Dengar apa yang mereka katakan dan rasakanlah. Evaluasi komentar-komentar mereka daripada menyalahkannya. Mungkin saja mereka memunyai sesuatu yang ingin ditawarkan kepada Anda. Apakah amarah atau kekritisan Anda yang berlebihan muncul dari keinginan untuk merasa diri lebih baik? Apakah pendapat-pendapat Anda selalu tepat atau dapatkah usul-usul tersebut diperbaiki? Perhalus bicara dan reaksi Anda terhadap orang lain. Perhatikan sikap dan ekspresi Anda yang akan menunjukkan penolakan dan kritik terhadap orang lain. Dapatkah Anda mengungkapkan penghargaan dan pujian untuk menggantikan kekritisan yang berlebihan?

  8. Mungkin ada kalanya amarah atau sikap kritis yang berlebihan dapat dibenarkan. Jika Anda akan mengungkapkannya, rencanakan terlebih dulu dan nyatakan dengan kata-kata yang dapat diterima orang lain. Gunakan waktu, kebijaksanaan, dan sertailah dengan kerinduan untuk menolong orang lain, bukannya menjatuhkannya.

    Carilah teman yang dapat diajak bicara dari hati ke hati dan Anda dapat memeroleh masukan dari saran-sarannya. Akui perasaan Anda dan mintalah bimbingannya.

    Sediakan waktu untuk mendoakan kesulitan-kesulitan dalam mengendalikan perasaaan. Akui keadaan Anda secara terbuka kepada Allah. Mohon pertolongan-Nya. Hafalkan ayat-ayat Alkitab yang berkaitan dengan amarah dan cara-cara berperilaku terhadap orang lain. Hafalkan dan pahami ayat-ayat tersebut dan praktikkanlah dalam hidup sehari-hari.

Sumber
Judul Artikel: 
Indo Lead

Published in e-Konsel, 17 March 2008, Volume 2008, No. 156


hi

thanks tulisannya menarik
blognya bagus

Komentar