Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Refleksi Alkitabiah

Edisi C3I: e-Konsel 284 - Hubungan Pacaran/Tunangan

Diringkas oleh: Sri Setyawati

Bahan: Kejadian 24:1-67

Berikut ini adalah asas-asas pemilihan pasangan hidup yang bisa kita ambil dari Kejadian 24:1-67.

a. Kehendak Allah

Langkah pertama yang dilakukan dalam pemilihan pasangan ialah menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan. Jangan menyerahkan setengah-setengah, tetapi seluruhnya. Allahlah yang empunya segala sesuatu, termasuk memilih pasangan hidup. Bila hal ini tidak dilakukan sesuai kehendak Allah, tidak mungkin berakhir dengan baik. Kehendak Allah haruslah menjadi asas yang paling utama dalam memilih calon istri/suami. Asas ini harus melebihi asas lainnya, termasuk alasan cinta.

Pertanyaannya, bagaimanakah kita dapat menerapkan asas kehendak Tuhan di dalam memilih pasangan? Pertama, kita harus memahami bahwa kita adalah manusia yang berdosa (Roma 3:10). Dosa (1 Yohanes 3:4) telah menimbulkan jurang pemisah antara kita dengan Allah. Puji Tuhan, jurang pemisah itu telah dijembatani oleh pengorbanan Yesus di kayu salib. Kedua, kita harus percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Anak Tunggal Bapa yang turun ke dalam dunia, untuk menebus dan menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa (Yohanes 3:16). Ketiga, kita harus bertobat dari segala dosa -- mengakui segala dosa yang meliputi pikiran, perkataan, perbuatan, dan keinginan yang bertentangan dengan hukum Allah dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Selanjutnya, pelihara, perdalam, dan kembangkan hubungan kita dengan Tuhan dengan mempelajari firman Allah. Namun, jangan mempelajari firman Allah untuk menguasainya, tetapi sebaliknya izinkan firman itu menguasai kita dan menjadi dasar, jalan, dan tujuan hidup kita. Jika hubungan kita dengan Tuhan berkembang seperti ini, maka kita akan lebih mudah memahami petunjuk untuk mengetahui dan memahami kehendak Allah di dalam kehidupan kita.

b. Kesamaan Wawasan Hidup

Wawasan hidup merupakan keseluruhan nilai-nilai yang mengatur, mengendalikan, dan mengarahkan kehidupan manusia. Tentu saja, wawasan hidup Kristen harus memuat nilai-nilai kekristenan yang ditumbuhkan dan dikembangkan melalui pengetahuan dan pengalaman kristiani. Jadi, kita harus memilikinya terlebih dulu dan mencari pasangan yang memiliki kesamaan wawasan dengan kita.

Anak-anak muda yang memiliki nilai-nilai kekristenan yang kuat, tidak akan ragu untuk memilih pasangan yang sesuai dengan kehendak Allah. Saya mengenal beberapa anak muda yang begitu aktif dalam kegiatan-kegiatan dan pelayanan gereja, tetapi begitu mudah tertarik dan jatuh cinta kepada orang yang tidak sewawasan, bahkan berbeda iman. Penyebab utamanya ialah karena nilai-nilai kekristenan mereka masih terlalu dangkal, belum dihayati, dan belum berakar. Bila nilai-nilai itu kuat, mereka tidak akan pernah ditundukkan oleh orang lain. Oleh sebab itu, gali dan perdalam pengetahuan tentang firman Tuhan. Cari dan pilihlah pengalaman-pengalaman yang mendukung pertumbuhan dan pengembangan kekristenan, supaya Roh Kudus selalu mengawali hidup dan memampukan kita untuk memenangkan setiap pergumulan dalam hidup ini.

c. Hubungan Kekerabatan

Yang dimaksud dengan hubungan kekerabatan adalah hubungan antara anak-orang tua dan kakak-adik. Hubungan ini sangatlah penting dan tidak dapat ditinggalkan. Pemilihan pasangan hidup hendaknya mendapatkan persetujuan dan restu dari orang tua dan dukungan dari saudara-saudara.

Keluarga yang dibentuk sebagai muara dari proses pemilihan pasangan hidup adalah suatu lembaga pewarisan nilai-nilai hidup yang paling kuat. Pewarisan nilai-nilai itu ditentukan olah kualitas hubungan kekerabatan. Makin kuat ikatan kekerabatan, makin muluslah kelangsungan pewarisan itu, dan kemulusan pewarisan itu akan memperkuat nilai-nilai kekristenan.

d. Ketepatan Waktu

Dalam menyatakan pilihan pasangan hidup, kita tidak boleh tergesa-gesa. Ruang dan waktu perlu disediakan untuk mendengarkan suara Tuhan, agar pemilihan tidak akan menyimpang dari kehendak Tuhan. Kesabaran dibutuhkan supaya setiap langkah yang diambil dapat dijalankan tepat pada waktunya, termasuk langkah menyatakan pilihan itu.

e. Moralitas

" ... seorang perawan, belum pernah bersetubuh dengan laki-laki" (Kejadian 24:16). Ayat ini memancarkan asas moralitas, yaitu menjaga dan memelihara keperawanan sebelum menikah. Perkawinan adalah rancangan Allah sendiri. Karena itu, kesuciannya haruslah dipelihara dan dijaga jangan sampai ternoda oleh hubungan-hubungan antara mereka yang bersangkutan yang melampaui batas yang diperkenankan oleh moral.

f. Kecantikan

Tidak disangkali bahwa setiap orang tertarik kepada kecantikan fisik. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang artistik, suka akan keindahan, termasuk kecantikan. Tidaklah heran jika ada orang yang sangat mendambakan, bahkan memberhalakan kecantikan. Kecantikan di dalam asas ini lebih mengarah pada ketertarikan dan kecocokan. Jadi, pilihlah orang yang menarik dan cocok dengan Anda, yang saat berada di dekatnya Anda merasa gembira, senang, dan puas. Akan tetapi, kecantikan tidak ditentukan oleh sifat-sifat jasmaniah saja, tetapi juga sifat-sifat batiniah (watak, sikap, dan tingkah laku) dan nilai-nilai lainnya yang terbentuk melalui pengetahuan yang dipelajari dan pengalaman yang dialami. Kecantikan itu adalah keseluruhan sifat-sifat yang baik dan luhur yang terkandung dalam pribadi seseorang, yang menimbulkan daya tarik dan rasa cocok, serta merangsang rasa gembira, senang, dan puas. Memilih pasangan hidup tidaklah memilih tubuhnya, melainkan memilih pribadinya, pribadi yang berkenan kepada Tuhan.

g. Upaya yang Suci

Allah tidak hanya merancangkan pernikahan, tetapi Dia juga turut menjaga terlaksananya pemilihan calon istri yang tepat. Dengan perkataan lain Allah turut berperan dalam proses pemilihan calon pasangan hidup dan menghasilkan upaya yang suci. Allah itu suci, karenanya segala yang disentuhnya menjadi suci.

Mengingat akan peranan Allah ini, maka selayaknyalah manusia mengimbanginya dengan berdoa secara terus-menerus. Hamba Abraham dalam tugasnya memilihkan calon istri bagi Ishak, tercatat tiga kali berdoa kepada Tuhan Allah. Jadi, berdoalah setiap waktu agar kita selalu ingat akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita. Berdoalah untuk setiap kegiatan, setiap rencana, dan cita-cita supaya Allah turut berperan dan memberkati setiap upaya itu. Berdoalah pada saat kita sedang mencari pasangan hidup, berdoalah pada saat kita menemukan pasangan yang cocok, dan berdoalah untuk kesempatan berkasih sayang dengan pasangan kita, berdoalah untuk semua kenikmatan dan kemesraan yang dikaruniakan Allah kepada kita dan pasangan kita, berdoalah pada saat Allah menuntun kita memasuki ikatan perkawinan yang kudus.

Diringkas dari:

Judul buku : Menuju Kebahagiaan Kristiani dalam Perkawinan
Judul bab : Memilih Pasangan Hidup
Penulis : Drs. J. Kussoy
Penerbit : Gandum Mas, Malang 1994
Halaman : 51 -- 60

Catatan: Jika Anda ingin membaca artikel ini seutuhnya, Anda bisa mengaksesnya melalui situs Christian Counseling Center Indonesia (C3I) di alamat: http://c3i.sabda.org/refleksi_alkitabiah

Komentar