Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Di Mana Kita Tidak Sependapat? Bacaan Aturan Emas dan Panggilan untuk Empati

Apakah Anda percaya empati bisa berbahaya secara rohani?

Saya percaya, dan saya telah mencoba menjelaskan mengapa dan bagaimana. Dan, karena melakukan itu, saya menerima beberapa kritik (beberapa di antaranya cukup sengit). Kritik itu tidak mengejutkan. Sebagian besar dari kita memiliki kategori bagaimana emosi tertentu (seperti ketakutan atau kemarahan) bisa menjadi dosa; artikel tentang "dosa kemarahan" atau "dosa ketakutan" masuk akal bagi kita. Akan tetapi. dalam dunia modern, empati dipandang sebagai kebaikan yang hampir murni, dan oleh karena itu gagasan bahwa itu bisa berbahaya, dan bahkan berdosa, mungkin mengejutkan.

Namun demikian, interaksi dan juga kritik telah mencerahkan dan juga informatif. Misalnya, satu kelompok tanggapan terdengar seperti ini:

Bagaimana Anda bisa menyebut empati sebagai dosa? Empati adalah kepedulian seperti Kristus kepada orang-orang yang menderita yang berusaha masuk ke dalam kesusahan mereka untuk membantu mereka. Dengan mengkritik empati, berarti Anda membenarkan tanggapan yang tidak responsif, tidak peduli, dan tidak kristiani terhadap orang-orang yang menderita.

Pada dasarnya, kritik terhadap argumen saya ini benar-benar salah. Ini adalah penafsiran yang salah dari apa yang saya katakan dan tulis. Mendefinisikan empati dengan cara yang positif (kepedulian Kristus) dan kemudian bertindak seolah-olah saya menyerang pemahaman istilah itu. Akan tetapi, keprihatinan saya justru sebaliknya: untuk mendorong kepedulian seperti Kristus bagi orang-orang yang menderita. Jadi, bagaimana beberapa kritikan saya menarik kesimpulan mereka? Saya percaya mereka gagal mempraktikkan apa yang mungkin kita sebut "hermeneutika Aturan Emas": Apakah saya melakukan kepada penulis seperti yang saya ingin mereka lakukan kepada saya?

Kejelasan melayani kemurahan hati; kemurahan hati mengupayakan kejelasan.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Nah, tidak semua kritikus saya menanggapi argumen saya dengan versi manusia jerami. (teknik debat di mana kita mengatakan bahwa lawan kita mempercayai sesuatu yang sebenarnya tidak dia yakini, dan kemudian membuat argumen untuk menghancurkan dia - Red.) Banyak dari mereka telah berusaha untuk benar-benar terlibat dengan versi terkuat dari argumen saya, dan saya berterima kasih atas kejelasan dan kemurahan hati mereka. Perdebatan, bagaimanapun, telah memberi saya kesempatan untuk meninjau kembali beberapa prinsip penting mengenai ketidaksepakatan di dalam gereja.

Kejelasan dan Kemurahan hati

Salah satu keyakinan utama saya adalah bahwa kejelasan dan kemurahan hati bersatu. Kejelasan melayani kemurahan hati; kemurahan hati mengupayakan kejelasan. Mengasihi orang lain dengan baik berarti bahwa kita berusaha menghindari ambiguitas dan ketidakjelasan, dan membawa terang pada kebingungan dan kegelapan. Hal inilah yang paling dibutuhkan saat kita terlibat dengan lawan teologis atau politik atau filosofis kita.

Di kelas saya di Bethlehem College & Seminary, saya terus-menerus mendesak mahasiswa saya untuk mengasihi orang lain dengan mencari kejelasan. Kita harus secara teratur mengajukan pertanyaan sulit kepada diri sendiri ketika kita terlibat dengan perspektif orang lain, baik dari penulis yang sudah meninggal atau orang yang masih hidup. Dua pertanyaan terutama yang memandu upaya saya sendiri untuk mencari kejelasan dan kemurahan hati:

1. Sudahkah Saya Mengerti dan Menafsirkan dengan Benar?

Ketika terlibat dengan orang lain, saya secara teratur bertanya apakah saya memahami dan menafsirkan mereka secara akurat dan adil. Dengan kata lain, apakah saya melakukan kepada penulis seperti yang saya ingin mereka lakukan kepada saya?

Karena saya ingin orang lain membaca tulisan saya dengan murah hati dan menafsirkan posisi saya secara akurat, saya juga berusaha untuk membaca orang lain dengan murah hati dan menafsirkan mereka secara akurat. Entah kita sedang membaca Plato atau Dante, Hume, atau Edwards, tujuan pertama kita adalah mengamati secara akurat, memahami dengan jelas, dan menafsirkan para pemikir ini secara objektif. Hanya dengan begitu kita berada dalam posisi untuk mengevaluasi dan menilai mereka dengan benar.

Mengembangkan kebiasaan hati dan pikiran ini tidaklah mudah. Jauh lebih mudah untuk membuat argumen manusia jerami dan menyerang mereka, terutama ketika berhadapan dengan posisi dan pandangan yang kita tolak. Untuk mengatasi kecenderungan ini, saya secara teratur meminta mahasiswa saya untuk menafsirkan pertanyaan, keprihatinan, dan pemikiran seorang penulis dengan cara yang dapat diterimanya. Jika dia mendengar mereka mereproduksi argumennya, dia seharusnya bisa mengatakan, "Ya, Anda telah menyatakan posisi saya dengan baik." Kemudian, setelah menafsirkan pandangannya secara objektif, mereka bebas menilai dan mengkritik apa yang telah mereka pahami.

Argumen Manusia Baja

Bahkan lebih dari itu, saya sering mencoba menjadi "manusia baja" sebagai posisi lawan. Sebuah argumen manusia baja adalah kebalikan dari argumen manusia jerami. Saat kita mendirikan manusia jerami, kita menampilkan karikatur yang dilemahkan dari posisi lawan kita, yang membuatnya lebih mudah untuk dijatuhkan. Media sosial mendorong keterlibatan semacam ini, karena kita bertujuan untuk memiliki momen "mic drop". (tindakan menjatuhkan mikrofon pada akhir pidato untuk menunjukkan bahwa itu sangat bagus - Red.) Sangat mudah untuk menemukan banyak pemandu sorak yang akan bertepuk tangan ketika kita menghancurkan lawan kita (atau setidaknya, manusia jerami yang kita kaitkan langsung ke mereka).

Sebaliknya, argumen manusia baja berusaha untuk menafsirkan posisi lawan lebih baik daripada yang mereka lakukan. Kita mungkin memberikan argumen tambahan untuk posisinya — yang tidak dia ajukan — untuk menyajikan ekspresi terkuat dari posisi itu. Latihan semacam ini adalah tindakan kasih terhadapnya, dan terhadap mereka yang sependapat dengan kita. Dengan memperkuat pandangan yang akhirnya kita tolak, kita dapat menyadari keterbatasan atau kelemahan dalam argumen kita sendiri.

Lewis tentang Api Penyucian

Misalnya, ketika saya mengajar kelas tentang C.S. Lewis, saya membahas kepercayaannya dalam doktrin api penyucian. Lewis cukup jelas tentang masalah ini. Dalam Surat kepada Malcolm, dia berkata, "Saya percaya pada Api Penyucian" (107).

Akan salah, bagaimanapun, untuk menyimpulkan dari pernyataan ini bahwa Lewis percaya pada sebuah neraka sementara bagi orang Kristen, di mana setan menyiksa orang-orang kudus untuk jangka waktu yang terbatas. Lebih dari itu, adalah salah untuk menyimpulkan dari kepercayaan Lewis tentang api penyucian bahwa dia juga menganut doktrin indulgensi Katolik Roma abad pertengahan yang membuat Martin Luther begitu marah. Dalam kedua kasus ini, kita tahu bahwa kesimpulan seperti itu salah karena Lewis memberi tahu kita demikian dalam paragraf setelah pernyataannya yang percaya pada api penyucian. Dia secara eksplisit menolak gagasan bahwa api penyucian adalah tempat hukuman pembalasan, serta gagasan bahwa itu menuntut transaksi komersial di mana orang-orang kudus yang hidup membayar uang untuk membebaskan kerabat yang meninggal lebih awal dari siksaan mereka.

Jadi, ketika saya mengajar tentang Lewis, pertama-tama saya mencoba untuk menggambarkan secara akurat keyakinannya tentang api penyucian — ini adalah masa penyucian sementara di mana jiwa yang diselamatkan ingin sepenuhnya dibersihkan dari sisa-sisa dosa sebelum sepenuhnya menikmati hadirat Allah. Kemudian, setelah menjelaskan pandangan Lewis secara akurat, saya memberikan alasan alkitabiah dan teologis untuk menolak perspektif Lewis. Akan tetapi, ketika saya mencoba menjelaskan kepada mahasiswa saya, kita mendapatkan hak untuk mengkritik hanya melalui penafsiran akurat dari posisi yang berlawanan. Ini adalah salah satu cara bahwa kejelasan melayani kemurahan hati, dan kemurahan hati mengupayakan kejelasan.

2. Seperti Apa Perbedaan Ini?

Namun, selain secara akurat menafsirkan posisi orang lain, kita juga bertujuan untuk kejelasan dengan berusaha menentukan sifat perbedaan antara berbagai posisi. Misalnya, ketika mahasiswa saya berusaha untuk memahami dan mulai mengevaluasi posisi orang lain, saya mendorong mereka untuk mengajukan pertanyaan yang tajam dalam penilaian mereka.

  1. Apakah ini perbedaan semantik? Artinya, apakah posisi kita secara substansial sama (kita percaya hal yang sama), tetapi kita menggunakan istilah yang berbeda untuk mengekspresikan keyakinan umum kita?
  2. Apakah ini perbedaan substansi? Artinya, apakah posisi saya secara substansial berbeda dari posisi orang lain?
  3. Apakah ini perbedaan penekanan? Artinya, apakah posisi kita sama, tetapi apa yang kita tekankan atau garis bawahi tentang posisi kita berbeda? Apakah kita memiliki naluri yang berbeda atau penilaian yang berbeda tentang berbagai bahaya dan godaan mengenai posisi kita?

Jadi, bagaimana pemahaman tentang perbedaan semacam ini dapat mencerahkan perdebatan empatiempati khususnya, dan membantu kita mencari persatuan dalam perbedaan kita?

Perbedaan Semantik

Saya percaya kita memiliki lebih banyak kesepakatan atas empati daripada yang sering kita sadari. Misalnya, saya selama ini selalu mendorong kepedulian seperti Kristus bagi orang-orang yang menderita yang berusaha masuk ke dalam kesusahan mereka untuk membantu mereka — sambil tetap terikat pada kebenaran. Pertanyaan sebenarnya adalah apa istilah terbaik untuk orientasi seperti Kristus itu. Argumen saya adalah bahwa belas kasihan (atau simpati) adalah istilah terbaik, yang diturunkan langsung dari Kitab Suci (1 Petrus 3:8; Ibrani 4:15; 10:34). Yang lain tidak setuju, dan berpendapat bahwa empati adalah istilah yang lebih baik. Namun, bagaimanapun juga, jika kita menyepakati konsep itu sendiri, maka perbedaannya adalah semantik, bukan substantif.

Nah, perbedaan semantik bisa menjadi signifikan. Perbedaan-perbedaan itu mungkin membuat kebingungan. Beberapa orang telah mengkritik argumen saya tentang empati justru atas dasar ini. Kritikus ini memiliki keprihatinan substantif yang sama dengan saya, tetapi berpikir bahwa mendefinisikan empati seperti yang saya lakukan dan berbicara tentang "dosa empati" itu membingungkan orang. Mereka menyarankan saya menggunakan istilah seperti "empati berdosa" atau "empati yang longgar" atau "empati yang tidak terkendali" untuk membedakan jenis empati yang buruk dari bentuk empati yang baik dan berguna.

Dan, sementara saya sengaja menggunakan frase provokatif untuk menarik perhatian dan memprovokasi pemikiran (seperti orang bahkan mungkin berusaha untuk memulihkan kata hedonisme untuk penggunaan Kristen), jelas bahwa saya tidak terpaku pada kata tertentu. Saya mengkritik fenomena tersebut tanpa menggunakan istilah empati ("Balas Kasih Berbahaya"). Dan, saya telah memuji pemahaman tertentu tentang empati, baik dalam tulisan saya sendiri maupun dalam tulisan orang lain. Oleh karena itu, empati yang longgar atau tidak terkendali menurut saya merupakan istilah yang sangat baik untuk bahaya yang saya anjurkan untuk kita hindari.

Poin utama di sini, bagaimana pun, adalah penting untuk membedakan perbedaan semantik dari perbedaan substantif, dan bahwa memperlakukan perbedaan semantik seolah-olah itu adalah perbedaan yang substantif sering kali salah menafsirkan seseorang.

Perbedaan Penekanan

Hal yang sama berlaku untuk perbedaan dalam penekanan. Sebagai contoh, dalam tulisan saya tentang empati, saya secara khusus berfokus pada bahaya tenggelam dalam penderitaan orang lain sehingga kita menjauh dari kebenaran dan membiarkan orang lain mengendalikan kendaraan emosional kita. Saya telah berusaha untuk membantu orang menyadari ketika mereka sedang dimanipulasi oleh kepekaan dan kesedihan terhadap orang-orang yang menderita. Beberapa kritikus, bagaimanapun, percaya bahwa bahaya yang lebih mendesak adalah jenis simpati acuh tak acuh yang hanya mengucapkan kata-kata "Saya sedih karena Anda menderita" tetapi tidak pernah mengambil risiko untuk benar-benar membantu orang yang menderita. Dalam hal ini, penilaian yang berbeda dari bahaya yang lebih mendesak menyebabkan penekanan yang berbeda. Dengan masalah apa pun, kita masing-masing harus bertanya, Apa kebutuhan saat ini?

Gambar: tidak sependapat

Penilaian yang berbeda tentang kebutuhan (atau bahaya) sering disebabkan oleh pengalaman dan latar belakang pribadi yang berbeda. Jika Anda pernah melihat atau mengalami pemerasan emosional atas nama empati, atau jika Anda pernah melihat orang Kristen terpecah karena beberapa orang menganut logika bahwa "Saya menderita; oleh karena itu Anda berdosa," maka Anda lebih mungkin untuk menyadari bahaya itu dan dengan demikian menekankan perlunya rasa hormat yang mendalam terhadap kebenaran objektif dan kebaikan dalam upaya kita untuk membantu. Pada sisi lain, jika Anda telah melihat atau mengalami sikap tidak berperasaan dan kata-kata belas kasih yang kosong dalam menghadapi penderitaan yang nyata, atau Anda telah mendeteksi keengganan yang menakutkan untuk masuk ke dalam penderitaan orang lain, maka kemungkinan besar Anda akan menyadari akan bahaya itu dan dengan demikian menekankan perlunya upaya yang disengaja untuk menangis bersama mereka yang menangis dan berduka dengan mereka yang berduka.

Dan, perbedaan dalam penekanan, tentu saja, juga bisa signifikan. Dalam jangka panjang, mereka mungkin benar-benar menyebabkan perbedaan substantif. Kita dapat bersandar sejauh ini ke arah yang berbeda sehingga kita berakhir dengan posisi yang berbeda. Akan tetapi, seperti yang saya tekankan kepada mahasiswa saya, mereka tidak perlu melakukannya. Bahkan, diatur dengan benar, naluri dan penekanan yang berbeda dapat membantu memastikan bahwa gereja, atau tim pastoral, atau sekolah mempertahankan pemahaman yang utuh tentang keserupaan dengan Kristus.

Penekanan yang berbeda di antara mereka yang saling menghormati satu sama lain dan yang menghargai naluri yang berbeda dari tim dapat sangat bermanfaat bagi gereja. Tim pastoral yang saya layani justru memiliki rasa saling menghormati seperti ini. Kami membuat keputusan yang lebih baik justru karena kami membawa naluri dan kecenderungan kami yang berbeda ke dalam diskusi, sambil memiliki keyakinan mendasar yang sama.

Di mana Kita Tidak Sependapat

Secara pribadi, saya mendapati bahwa perdebatan seputar empati dan kasih sayang sangatlah mencerahkan. Kritikus yang beritikad baik telah membantu saya untuk mengasah argumen, mengidentifikasi berbagai garis kesalahan, dan, sebagai hasilnya, (saya harap) memberikan lebih banyak kejelasan pada bagian argumen saya yang membingungkan beberapa orang. Kritikus yang beritikad buruk telah melayani pengudusan saya dengan cara lain. Lebih penting lagi, saya berharap debat khusus ini dapat membekali kita untuk menghadapi ketidaksepakatan di masa depan (yang akan ada banyak).

Dalam semua ini, tujuan kita sebagai orang Kristen haruslah mempraktikkan hermeneutika Aturan Emas. Sebagai pendengar dan pembaca, kita harus mendengarkan dan membaca dengan kejelasan dan kasih, berusaha untuk memahami penulis dengan istilah mereka sendiri. Kita harus menilai apakah perbedaan yang relevan adalah masalah substansi, semantik, atau penekanan, dan menafsirkan orang lain dengan kesetiaan dan perhatian. Demikian juga, sebagai pembicara dan penulis, kita harus berbicara dan menulis dengan kejelasan dan kemurahan hati dalam berbagai konteks kita, berusaha menjadi bijaksana, berani, dan penuh kasih dalam komunikasi kita. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/where-do-we-disagree
Judul asli artikel : Where Do We Disagree? Golden Rule Reading and the Call for Empathy
Penulis artikel : Joe Rigney

Komentar