<p>Syallom Sahabat C3I,...</p><p>Bulan ini kita memperingati Kebangkitan Kristus atau yang disebut dengan PASKAH. Biasanya, jauh hari sebelum PASKAH, gereja-gereja ataupun persekutuan-persekutuan telah membentuk panitia untuk mempersiapkan peringatan PASKAH. Bagaimana dengan gereja atau persekutuan Anda?</p><p>PASKAH mengingatkan kita akan arti pengorbanan Kristus bagi kita, umat pilihan-Nya. Ingatkah Sahabat C3I dengan ucapan Yesus berikut ini, "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu SAHABAT," (<SWEB>Yohanes 15:15</SWEB>). Sungguh, satu hal yang amat istimewa ketika Yesus menyebut dan menganggap kita sebagai sahabat-Nya. Ingatkah juga Anda dengan perkataan Yesus ini, "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (<SWEB>Yohanes 15:13</SWEB>). Pernyataan Yesus itu bukan ungkapan kosong semata. Ia membuktikan ucapan-Nya itu dengan memberikan nyawa-Nya untuk manusia yang telah menjadi sahabat-Nya.</p><p>Nah, pada kesempatan ini, marilah kita belajar dari Tuhan Yesus tentang apa artinya menjadi "sahabat", melalui <b><a href ="http://c3i.sabda.org/taxonomy/vocabulary/15">Fokus C3I</a></b> Maret 2005. Nah, tunggu apalagi? Selamat menyimak!</p>
Menjadi sahabat buat suami berarti siap mendampingi dan siap menjadi
seorang yang melengkapi. Ada hal-hal yang sangat perlu diperhatikan
bagi seorang istri untuk dapat menjadi sahabat buat suami. Simak
ringkasan diskusi berikut ini bersama Pdt. Dr.
Sebagai lanjutan dari edisi sebelumnya (edisi 064/2004) yang
menampilkan topik Menjadi Sahabat Buat Anak, kini kami lengkapi
sajian TELAGA dengan topik Menjadi Sahabat Bagi Istri. Ringkasan
perbincangan dengan Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph.D. berikut ini kami
harapkan bisa semakin melengkapi informasi yang sudah kami sajikan
sebelumnya.
Orang yang mempunyai sahabat baik dan merupakan sahabat baik bagi orang lain sesungguhnya adalah orang yang sangat kaya dan puas. Persahabatan yang baik seharusnya menunjukkan ciri-ciri seperti berikut ini:
1. Persahabatan yang baik tidak mementingkan diri sendiri.
Seorang sahabat tidak harus seseorang yang sebaya, bersekolah atau
bekerja di tempat yang sama, dan kemana-mana harus selalu bersama.
Orangtua bisa juga menjadi sahabat bagi anak-anak mereka bahkan ini
sangat dianjurkan karena berpengaruh sekali pada perkembangan diri
anak-anak tersebut. Apa dan bagaimana seluk beluk orangtua yang
menjadi sahabat bagi anak-anak itu? Simak sajian TELAGA berikut ini
bersama narasumber Pdt.