Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Paskah

Kristus Menderita dan Mati untuk Pengampunan Dosa-Dosa Kita

Edisi C3I: e-Konsel 358 - Karya Keselamatan Kristus

"Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya." (Efesus 1:7) ... baca selengkapnya »

Penyingkapan Salib

"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." (Yohanes 17:3) ... baca selengkapnya »

Proses Pengadilan Yesus

Edisi C3I: edisi - 335 Pengadilan Yesus

Sebagai Injil terawal, Markus memberikan narasi paling awal tentang penyaliban. Markus tentu saja bukan orang pertama yang menceritakannya. Kehormatan itu dimiliki Paulus, yang semua surat aslinya ditulis sebelum Injil mana pun. Paulus sering mengacu pada fakta tentang penyaliban Yesus: dia berulang kali membicarakan tentang kematian Yesus, salib, dan Kristus yang tersalib. Ini merupakan "hikmat dan kuasa Allah", meskipun hal ini menjadi "batu sandungan" bagi orang-orang Yahudi dan "kebodohan" bagi bangsa-bangsa yang tidak percaya kepada Tuhan. Penyaliban Yesus merupakan suatu perwujudan kasih Allah kepada kita, pengorbanan yang memungkinkan penebusan kita, dan jalur transformasi pribadi seperti kematian dan kebangkitan yang terletak pada inti kehidupan orang-orang Kristen (1 Korintus 1:23-24; Roma 5:8; Roma 3:24-25; Galatia 2:19-20; Roma 6:3-4). ... baca selengkapnya »

Kebangkitan Kristus

Edisi C3I: e-Konsel 337 - Yesus Bangkit

  1. Pentingnya Kebangkitan Kristus

    1. Bagi Pribadi-Nya.

    2. Jika Kristus tidak bangkit dari antara orang mati, Ia adalah seorang pendusta karena Ia meramalkan bahwa Ia akan bangkit (Matius 20:19). Malaikat berkata kepada para wanita yang menengok kubur-Nya, yang bertanya-tanya di mana Dia, "Ia tidak ada di sini, karena Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya." (Matius 28:6) Kebangkitan-Nya memberikan tanda keabsahan Tuhan kita selaku seorang Nabi yang sejati. Tanpa kebangkitan-Nya, semua yang Ia katakan dapat menjadi hal yang diragukan.

Kurban Pendamaian

Edisi C3I: e-Konsel 336 - Penyaliban Yesus

"Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Filipi 2:8)

Berbicara tentang Paskah (Passover), maka pemikiran kita akan diproyeksikan kembali pada sejarah Paskah, saat Bangsa Israel akan keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham sebagai miliki pusakanya. Ketika itu, Tuhan hendak menghukum Bangsa Mesir dengan "membinasakan" semua anak sulung yang ada di sana (Keluaran 11:4-6; 12:12). Pada saat itu, Tuhan melewati (pass over) setiap rumah orang Israel (Keluaran 12:13). Mengapa Tuhan melewati rumah Bangsa Israel? Karena Tuhan sudah melihat tanda pada setiap ambang pintu dan ambang batas rumah Bangsa Israel dengan darah anak domba yang dikorbankan (Keluaran 12: 4,13). Karena itu, Tuhan meluputkan Bangsa Israel dari malapetaka yang akan terjadi karena ada pengurbanan. Dan, Paskah ini menjadi peringatan bagi Bangsa Israel secara turun-temurun sebagai hari raya untuk Tuhan (Keluaran 12:14). Menilik kembali apa yang dicatat dalam kebenaran firman Tuhan di kemudian hari setelah bangsa itu keluar dari tanah Mesir, kita akan menemukan bahwa pengurbanan binatang merupakan sesuatu yang lazim dilakukan sebagai korban penghapus dosa, korban pendamaian, dan persembahan kepada Tuhan. Binatang yang paling lazim untuk dipersembahkan adalah domba. ... baca selengkapnya »

Penderitaan Yesus, Bukan Suatu Nasib Malang

Edisi C3I: edisi - 334 Penderitaan Anak Manusia

Bacaan: Lukas 9:22-36

Ada tulisan yang menyatakan bahwa penderitaan dan kematian Yesus Kristus disebabkan oleh gerakan-Nya untuk menjadi Mesias gagal. Karena itu, orang-orang yang berpandangan bahwa kematian Yesus di kayu salib sebagai seorang penjahat merupakan suatu konsekuensi politis yang wajar dan pantas. Menurut pemahaman ini, kematian Yesus di kayu salib dianggap tidak mampu membawa pengaruh apa pun terhadap karya keselamatan Allah. Singkatnya, kematian Yesus tidak membawa efek apa pun bagi penebusan umat manusia. Lalu, bagaimana mungkin umat manusia dapat ditebus oleh darah seorang tokoh yang gagal mewujudkan harapan Bangsa Israel yang ingin bebas dari penjajahan Romawi? ... baca selengkapnya »

Makna Penderitaan Yesus Kristus

Edisi C3I: e-Konsel 334 - Penderitaan Anak Manusia

Dirangkum oleh: S. Setyawati

Tuhan Yesus mengurbankan diri-Nya di kayu salib bukan karena Ia sedang menganggur atau ingin menerima pujian. Ia memiliki tujuan dan maksud yang jelas. Tuhan Yesus rela mati dan bangkit untuk menebus manusia dari dosa karena Ia sangat mengasihi manusia. Beberapa ayat Alkitab berikut menjelaskan tentang makna penderitaan Yesus melalui salib: ... baca selengkapnya »

Makna Pengorbanan Kristus

Edisi C3I: e-Konsel 290 - Sorak Kemenangan

Pada momen Paskah, kita kembali diingatkan akan pengorbanan Yesus Kristus untuk menebus dosa-dosa kita. Tanpa darah Kristus yang dicurahkan, mustahil bagi kita untuk memperoleh pengampunan dan keselamatan kekal. Sekarang, bagaimana kita memaknai dan menanggapi pengorbanan Yesus Kristus? Pertanyaan serupa pernah diposting di Facebook e-Konsel, dan beginilah tanggapan para Sahabat e-Konsel.

e-Konsel: Bagaimana Anda memaknai pengorbanan Yesus Kristus dalam hidup Anda?

Komentar: ... baca selengkapnya »

Bukti Yesus Mati

Edisi C3I: e-Konsel 236 - Kematian Yesus

Alkitab mengatakan bahwa Allah datang ke dunia sebagai manusia untuk membayar hukuman mati bagi dosa dunia (Yohanes 1:1-29; Roma 6:23). Alkitab juga mengatakan bahwa apabila Yesus tidak berkuasa atas kematian dan keluar dari kubur batu yang dingin itu, Dia tidak dapat memberikan kemenangan atas kematian bagi kita (1 Korintus 15:12-19).

Pertanyaannya, apakah Yesus benar-benar mati?

Kita harus memulainya dengan kabar buruk. Perseteruan antara Yesus dan para pemimpin agama Israel harus dibayar dengan hidup-Nya. Tatkala tubuh-Nya diturunkan dari kayu salib di Golgota, Dia telah mati. Kebenaran tentang kebangkitan itu benar-benar bergantung pada fakta ini. ... baca selengkapnya »

Paskah Terindah dalam Hidupku

oleh Eddie Ogan

Aku tidak akan pernah melupakan PASKAH tahun 1946. Saat itu, aku masih berumur 14 tahun, adikku Ocy berumur 12 tahun dan kakakku Darlene 16 tahun. Kami tinggal bersama Mama. Meskipun hidup kami pas- pasan, kami berempat tahu apa yang kami lakukan. Papaku meninggal 5 tahun sebelumnya, meninggalkan Mama seorang diri dengan 7 anak yang masih sekolah. Pada tahun 1946 itu, kakak-kakakku perempuan telah menikah dan kakak-kakakku yang laki-laki sudah meninggalkan rumah. ... baca selengkapnya »

Komentar


Syndicate content