Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Badai Natal yang Mempersatukan Cinta

Seorang pendeta muda baru saja dipanggil untuk menjadi pendeta di sebuah jemaat, yang pada awal abad XIX merupakan gereja paling bergengsi di daerah perumahan orang-orang kaya di kota New York. Ketika pendeta muda itu ditahbiskan, persisnya bulan Oktober 1948, daerah tersebut telah berubah menjadi daerah kumuh dengan bangunan tua yang telah diabaikan pemiliknya, karena mereka pindah ke daerah pemukiman baru di pinggir kota yang lingkungannya jauh lebih segar.

Meski keadaannya demikian, pendeta dan istrinya tersebut sangat kagum terhadap gedung gereja yang masih mencerminkan kemegahannya di masa lampau itu. Mereka merasa yakin bahwa mereka akan dapat memugar gedung tersebut sehingga keindahan aslinya dapat dimunculkan kembali.

Beberapa saat setelah peneguhannya, dia dan istrinya langsung melakukan sendiri perbaikan dan pengecatan dengan tujuan untuk memulihkan kemegahan gedung tersebut. Mereka dengan sukarela melakukan hal tersebut karena memang anggaran jemaat tidak memungkinkan untuk menanggung biaya pemugaran secara profesional. Tujuan dari bapak pendeta dan istrinya ialah agar pada ibadah Natal tanggal 25 Desember, gedung tersebut sudah menampakkan kembali kemegahannya, setidak-tidaknya tampak lebih bersih.

Pada tanggal 23 Desember 1948, sebuah badai musim dingin melanda New York, mencurahkan hujan dan es yang cukup banyak. Atap gereja itu rusak cukup parah. Bocor di mana-mana. Yang paling besar di belakang altar. Plester tua di bagian itu terkupas dan runtuh, serta meninggalkan belang besar pada tembok di belakang mimbar. Dengan sangat kecewa, pak pendeta dan istrinya memandang tembok yang telah runtuh plesternya itu. Dan menyimpulkan bahwa mereka tidak akan dapat memperbaikinya sebelum Natal tiba. Kerja keras mereka selama hampir tiga bulan rasanya percuma saja. Namun pasangan muda itu bisa menerima keadaan tersebut. Mereka merasa mungkin ada maksud Tuhan yang belum jelas bagi mereka saat itu. Mereka lalu membersihkan puing-puing yang mengotori altar.

Dalam suasana hati yang dipenuhi kekecewaan, sore itu pendeta dan istrinya tersebut menghadiri sebuah pasar murah yang diselenggarakan oleh pemuda gereja. Salah satu yang dijual pada pasar murah itu adalah taplak meja tua berwarna gading dengan renda-renda berwarna emas. Taplak besar itu memiliki panjang lebih dari tiga meter. Agaknya, sang pemilik asli mempunyai meja makan yang sangat panjang. Sebuah meja makan keluarga besar. Saat itu, tiba-tiba benaknya dipenuhi oleh suatu gagasan yang muncul dalam pikirannya. Taplak meja tua itu lalu dibelinya dengan harga enam setengah dolar. Mereka ingin menggantungkan taplak meja itu di belakang mimbar untuk menutupi bagian tembok yang plesternya sudah runtuh.

Tanggal 24 Desember, salju turun disertai angin kencang. Suhu dingin yang ditimbulkan oleh angin kencang itu mendekati minus 20 derajat celcius. Ketika pak pendeta membuka pintu gereja yang menghadap ke jalan raya, dilihatnya seorang wanita berdiri menanti bus di tempat perhentian bus. Karena pak pendeta tahu persis bahwa bus baru akan lewat di situ setengah jam lagi, diundangnya wanita itu untuk masuk ke gereja supaya tidak kedinginan di luar. Wanita itu menjelaskan bahwa dia memang tidak berasal dari daerah tersebut, sehingga ia tidak tahu jadwal bus di situ. (Perlu diketahui bahwa bus kota di AS diatur dengan jadwal yang sangat tepat, sehingga orang tahu pasti jam berapa bus tersebut melewati terminal tertentu.)

Wanita itu menjelaskan bahwa dia datang ke kota untuk mencari pekerjaan sebagai "governess" (pengasuh anak keluarga kaya) di daerah tersebut. Karena dirinya adalah seorang pengungsi perang dari salah satu negara Eropa yang tidak berbahasa Inggris, maka bahasa Inggrisnya dianggap kurang lancar. Oleh karena itu, setelah wawancara, lamarannya ditolak.

Sambil menunggu bus, dia memanfaatkan waktunya untuk berdoa. Dia tidak memperhatikan pak pendeta yang sedang memasang taplak meja yang baru dibeli di pasar murah untuk menutup dinding yang telah kehilangan plesternya itu. Setelah selesai berdoa dan memandang ke depan, dilihatnya taplak meja makan itu dan didekatinya.

"Ini taplak meja saya!" katanya menjelaskan. "Ini adalah taplak meja untuk acara-acara keluarga besar!" Dengan penuh semangat diceritakannya sejarahnya kepada pak pendeta yang masih terheran- heran. Ia menunjukkan namanya sendiri yang dibordir pada salah satu sudut taplak besar tersebut.

Bersama suaminya, dia dulu tinggal di Wina, Austria. Mereka melarikan diri dari Nazi Jerman hanya beberapa saat sebelum Perang Dunia II. Mereka memutuskan untuk mengungsi ke Swiss. Mereka sepakat untuk berangkat secara terpisah. Dia berangkat lebih dulu dan suaminya menyusul. Di kemudian hari, ia mendengar suaminya telah meninggal di camp konsentrasi Nazi.

Karena tersentuh oleh kisah tersebut, pak pendeta bermaksud memberikan taplak itu kepada pemiliknya yang asli. Ibu itu berpikir sejenak. Kemudian ia menolak tawaran itu dengan alasan karena dia tidak membutuhkannya lagi. Apalagi taplak itu kelihatan bagus tergantung di mimbar. Lalu dia berpamitan dan meninggalkan gereja tersebut.

Dalam "Candlelight Service" (kebaktian malam Natal dengan penerangan lilin), taplak meja itu kelihatan makin indah. Warna-warna emasnya makin menonjol dan berkilat-kilat diterpa sinar dari berpuluh lilin. Setelah kebaktian berakhir, dan para warga gereja meninggalkan tempat ibadah itu, mereka memuji penyelenggaraan ibadah malam itu dan mengomentari dekorasi di belakang mimbar.

Seorang lelaki tua menyatakan kekagumannya terhadap taplak meja yang digantung di dinding tersebut dan berkata kepada pak pendeta, "Aneh sekali! Beberapa tahun yang lalu, almarhum istri saya dan saya memiliki taplak meja yang mirip sekali dengan yang tergantung di tembok itu. Saya hanya mempergunakannya untuk acara-acara khusus. Namun, waktu itu kami masih tinggal di Wina."

Memang udara malam itu luar biasa dinginnya, tetapi bulu kuduk pak pendeta justru berdiri mendengar keterangan pak tua itu. Dengan cara setenang mungkin, pak pendeta menceritakan kepada pak tua itu tentang seorang wanita yang dijumpainya sore tadi.

"Mungkinkah itu?" kata pak tua itu sambil mengusap air matanya. "Mungkinkan dia masih hidup? Bagaimana caranya saya dapat menjumpai wanita itu?"

Pak pendeta ingat nama keluarga yang telah mewawancarai seorang wanita yang dijumpainya sore tadi. Dengan didampingi pak tua yang gemetaran karena tidak dapat menahan perasaannya, pak pendeta menelpon keluarga tersebut dan mencatat nama serta alamat wanita tersebut.

Dengan mobil, diantarnya pak tua itu ke sisi lain kota New York. Lalu mereka bersama-sama mengetuk pintu apartemen wanita tersebut. Ketika pintu terbuka, pak pendeta menyaksikan sebuah pertemuan yang penuh air mata sukacita yang menandai reuni sepasang suami-istri yang telah dipisahkan karena niat bersama untuk menyelamatkan diri dari kekejaman Nazi. Mereka dipisahkan lebih dari sepuluh tahun dan percaya bahwa pasangannya telah meninggal dunia. Sekarang mereka dipersatukan kembali.

Beberapa orang mengatakan bahwa peristiwa tersebut adalah sebuah kebetulan yang luar biasa: tembok yang runtuh plesternya, taplak meja tua, kecerdikan pak pendeta untuk memecahkan masalah. Namun, kombinasi peristiwa ini sungguh terlalu kompleks untuk menyebutnya sebagai sebuah kebetulan. Jika saja satu mata rantai yang rapuh dari rangkaiah peristiwa tersebut rusak, suami-istri tersebut mungkin tidak dapat dipersatukan kembali pada hari Natal tersebut. Seandainya hujan deras tidak turun, seandainya atap gereja tidak bocor. Seandainya pak pendeta tidak pergi ke pasar murah, seandainya wanita itu tidak pergi mencari pekerjaan. Seandainya wanita itu tidak berdiri menunggu bus tepat pada saat pak pendeta membuka pintu gereja. Seandainya.... Sebuah daftar panjang pengandaian yang dapat dibuat di sekitar kisah nyata itu. Persatuan itu agaknya memang sudah menjadi kehendak Tuhan. Seperti yang sering dikatakan orang, Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Damai di bumi, damailah di hati kita!

Sumber
Halaman: 
8 - 9
Judul Artikel: 
BAHANA, No.6/Th.XIV/Vol.152-Desember 2003
Penerbit: 
Yayasan Andi, Yogyakarta, 2003

Karya Tuhan

Tuhan berkarya dengan caraNya sendiri.

Jalan Tuhan selalu berakhir bahagia

Jalanmu bukan jalan-Ku..

Manusia memandang apa yang dilihat tapi Allah melihat jauh ke depan dan ke dalam hati manusia. Mustahil Tuhan memberikan yang baik, Dia selalu memberikan yang terbaik.

Semangaaaaaattt!!! :)

Komentar