Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Haruskah Orang Kristen Percaya Kebangkitan?

Edisi C3I: e-Konsel 182 - Kebangkitan Yesus

"Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu." (1 Korintus 15:14)

Alkitab mengajarkan bahwa hak untuk menyebut diri sebagai orang Kristen hanya dimiliki beberapa orang tertentu. Hal ini tidak berarti bahwa setiap orang yang termasuk non-Yahudi, non-Buddha, atau non-Muslim dapat secara otomatis mencap diri mereka sebagai orang Kristen. Bahkan setiap orang yang merasa diri mereka anggota gereja Protestan, gereja Katolik, atau pun gereja Ortodok Timur belum tentu memiliki hak untuk menyebut diri mereka sebagai orang Kristen. Apakah hal ini semata-mata disebabkan oleh karena perbedaan warna rambut? Tidak. Melalui istilah yang tepat, Rasul Paulus menjelaskan bahwa mereka yang tidak mau mengakui kebangkitan tubuh Yesus Kristus secara historis, tidak dapat dianggap sebagai orang Kristen dan mereka tidak memiliki hak untuk menyebut diri mereka sebagai orang Kristen. Dengan demikian, penjelasan ini mengandung makna bahwa mereka yang hanya mau menerima ajaran moral Yesus Kristus, tetapi tidak mau mengakui kebangkitan-Nya sebagai le genda agama, juga belum bisa dianggap sebagai orang Kristen.

Selanjutnya, mengapa iman kepada kebangkitan Yesus Kristus merupakan hal yang sangat penting? Karena, iman seperti ini merupakan fakta mendasar yang mana kekristenan merupakan suatu agama yang unik di antara semua agama yang lain. Agama manakah yang pendirinya sudah membuktikan pernyataan bahwa Tuhan dan keilahian-Nya telah bangkit dari maut. Tak ada.

Jika ada rasul ditanya bagaimana mereka tahu bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, manifestasi Tuhan dalam daging, Juru Selamat dunia yang oleh karena ajaran dan hidup-Nya maka manusia diterangi dan yang oleh karena darah-Nya maka manusia ditebus, maka mereka pasti akan menjawab, "Karena Dia bangkit dari maut." Berulang kali Surat Kisah Rasul merekam fakta bahwa kebangkitan muncul sebagai bukti dari keunikan dan keilahian-Nya (2:22-36; 3:12-16; 4:10-12, 33; 5:29-32; 10:34-43; 13:16-41). Sebelumnya Allah telah memberitahu mereka bahwa mereka akan sepenuhnya dipengaruhi oleh kepribadian-Nya sebagai Tuhan yang dimanifestasikan dalam daging sebagai suatu hasil dari kebangkitan-Nya yang akan datang. Allah bahkan telah meramalkan hari kebangkitan-Nya. Yesus berbicara dan bertindak seperti Allah. Akan tetapi para rasul tidak pernah menerima Dia.

Juga, Sebagai Dasar Penghakiman

Kebangkitan tidak hanya menjadi batu landasan kekristenan, tetapi juga menjadi dasar yang mana kita memercayai penghakiman yang akan datang. Kristus telah menjanjikan penghakiman dan kebangkitan. Pemenuhan salah satu janji merupakan jaminan bagi pemenuhan janji yang lainnya.

Ketika Paulus berbicara kepada jemaat di Athena mengenai penghakiman, mereka menganggap dia sebagai pemimpi. Paulus menyatakan, "Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati" (Kisah Para Rasul 17:31). Saat mengatakan hal tersebut, sebenarnya Paulus memahami bahwa ia akan ditolak dan dicemooh oleh orang-orang Athena yang tidak mau peduli. Justru itulah ia menjumpai mereka sebelum mereka melakukan pencemoohan dan penolakan. Kepada orang-orang Athena, Paulus mengatakan bahwa bukti kepastian akan datangnya penghakiman adalah adanya peristiwa yang telah terjadi sebelumnya, yakni kebangkitan tubuh Kristus. "Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepa da semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati" (Kisah Para Rasul 17:31). Kebangkitan inilah yang menjadikan segala yang disampaikan dan dikhotbahkan para rasul layak dipercaya. Sebaliknya, jika kebangkitan Kristus tidak terjadi, maka tak satu pun dari apa yang disampaikan dan diucapkan para rasul tentang Dia, atau yang dikerjakan para rasul untuk-Nya, bisa dipercayai.

Kebenaran-Kebenaran Unik

Agama yang didirikan oleh Yesus Kristus memiliki banyak ajaran yang umum seperti halnya agama-agama lain di muka bumi ini. Akan tetapi, kekristenan memuat kebenaran yang istimewa dan khas. Kebenaran ini tidak terdapat dalam ajaran-ajaran agama lain. Salah satu dari keistimewaan ajaran Kristen adalah adanya kebangkitan dari maut. Secara jelas atau kurang meyakinkan, agama-agama lain telah menghibur diri dengan gagasan-gagasan kelanggengan jiwa. Orang-orang Mesir purba bahkan menunjukkan kewaspadaan yang sungguh-sungguh terhadap bersatunya kembali jiwa dengan tubuh yang diperbarui. Namun demikian, tak satu pun dari pendapat-pendapat tersebut mampu menjelaskan karakteristik-karakteristik dari tubuh atau kehidupan yang dibangkitkan dalam kesucian abadi seperti halnya pendapat yang dijelaskan oleh Paulus dalam 1 Korintus 15. Dalam hal ini, yang lebih penting adalah bahwa kekristenan itu sendiri telah melengkapi ilustrasi dan contoh historis dari kehidupan yang d ibangkitkan, dalam pribadi Tuhan Yesus Kristus.

Kebangkitan yang Unik

Seluruh struktur doktrin Kristen tentang kebangkitan dapat berdiri tegak atau tumbang (tergantung) karena adanya kebangkitan tubuh pribadi Kristus yang historis. Struktur ini merupakan fondasi atau dasar yang di atasnya seluruh ajaran Kristen dibangun dan dibentangkan. Dalam sejarah dunia yang panjang, belum pernah ditemukan adanya kebangkitan lain atas kehidupan yang kekal dan awet.

Seluruh kebangkitan yang pernah terjadi di muka bumi ini adalah kebangkitan atas keadaan-keadaan atau tubuh-tubuh yang akhirnya mati dan rusak kembali. Beberapa orang pernah dibangkitkan, seperti Lazarus, tetapi mereka kemudian mati lagi. Hanya Kristus sajalah yang dapat dikatakan bahwa "...Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia" (Roma 6:9). Hanya Kristus yang menjadi gambaran dan figur yang diberikan kepada dunia. Gambaran dan figur tersebut berupa kebangkitan yang utuh dan kebangkitan tanpa maut. Dunia tak pernah melihat satupun peristiwa mengenai tubuh dan kehidupan yang dibangkitkan selain yang diajarkan dari kebangkitan Yesus Kristus. Oleh karena itu, segala sesuatu terletak pada keyakinan akan satu-satunya ajaran tersebut. Jika kita memercayai bahwa kebangkitan Yesus Kristus merupakan sesuatu yang nyata benar adanya, maka iman kita dibangun di atas batu karang. Jika kita tidak memercayai hal tersebut, maka iman kita dibangun hanya di atas landasan pasir.

Kepercayaan Tak Berdasar

Sebagian orang berkata bahwa mereka memercayai ampuhnya kematian Kristus untuk menebus manusia dari kuasa dosa, namun mereka tidak percaya pada kebangkitan tubuh-Nya. Dapatkah orang secara logis mempertahankan pandangan tersebut? Mari kita lihat apa yang terjadi jika kematian Kristus tidak diikuti oleh kebangkitan Yesus Kristus. Jika hal itu terjadi, maka kematian Kristus hanya merupakan peristiwa umum yang terjadi pada jalan hidup manusia, tidak ada bedanya dengan kematian yang menimpa seseorang yang dianggap pintar dan adil. Kematian Kristus merupakan sesuatu yang penting dalam teladan moral yang besar, pengabdian pada kebenaran, keadilan dan kemurahan hati. Oleh karena itu, meragukan sekali jika ada orang yang menyatakan diri akan bangkit dari kematian, karena ternyata tidak. Bagaimana mungkin kematian orang biasa yang tubuhnya telah menjamur di kuburan, mampu menjadi suatu kekuatan surga dan bumi, yang berkuasa untuk membersihkan kehidupan dari kesalaha n, dan untuk memenangkan jiwa orang berdosa dan memperoleh pengampunan dari Tuhan?

Tak seorang pun mengira bahwa Paulus atau rasul-rasul lain utusan Allah akan berani mengatakan "mati bagi yang durhaka". Tentang Yesus Kristus, Paulus mengatakan, "Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah" (Roma 5:6). Tentang Kristus, Rasul Petrus mengatakan, "Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh" (1 Petrus 2:24). Siapa berani mengatakan bahwa orang-orang Kristen diperdamaikan oleh Allah melalui kematian Yesus (lihat Roma 5:10, "Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!"), apakah melalui Yesus orang-orang Kristen telah memperoleh penebusan dosa (lihat Roma 5:11, "Dan bukan hanya itu saja! Kita malah berme gah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu."), Ataukah "Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia." (1 Yohanes 2:2)?

Keilahian Yesus Terbukti

Yesus Kristus adalah Allah dalam daging. Fakta ini terbukti tidak hanya melalui kematian-Nya, tetapi juga melalui kebangkitan-Nya, "Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu." (1 Petrus 1:18-19)

Bagaimana kita tahu bahwa penderita Kalvari adalah Anak Allah sendiri? Jawabannya adalah melalui kebangkitan-Nya. Kebangkitan Yesus mengangkat nilai kematian Yesus ke tingkat kematian yang berbeda dari nilai kematian orang lain. Akan tetapi, jika kebangkitan disangkal, maka seluruh pesan para rasul mengenai penebusan dosa akan menjadi suatu hal pokok mengenai eksagerasi mistis (mistis yang terlalu dilebih-lebihkan). Orang-orang di Korintus yang menyangkal kebangkitan mungkin belum melihat akibatnya saat itu juga. Penyangkalan tersebut merupakan bukti bahwa iman mereka dalam penebusan telah dikikis secara perlahan oleh ketidakpercayaan kepada kebangkitan Yesus Kristus yang disalibkan. Jika iman mereka tak terkikis, tentu saja Paulus tidak perlu mengulang lagi penyampaian unsur dasar Injil, "Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suc i, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;" (1 Korintus 15:3-4).

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Sumber
Halaman: 
7 -- 9
Judul Buku: 
Berita Mimbar (April 1997, No.209, Th.XVII)
Pengarang: 
Spiros Zodhiates
Penerbit: 
Yayasan Berita Hidup
Kota: 
Solo
Tahun: 
1997

Komentar