Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Pastoral Konseling I

Edisi C3I: e-Konsel 026 - Pastoral Konseling

Kita telah mengetahui bahwa meskipun pastoral konseling berhubungan dengan bentuk-bentuk konseling lainnya, pastoral konseling juga memiliki bentuk khusus yang membedakannya dari bentuk-bentuk konseling lainnya. Ciri-ciri pastoral konseling berkaitan baik dengan kelebihan maupun keterbatasannya.

Kelebihan utama pastoral konseling adalah:

  • Pelatihan pelayanan secara teologi;
  • Ketajaman rohani;
  • Penggunaan sumber-sumber rohani;
  • Adanya kepercayaan dan penyesuaian proses konseling sehubungan dengan pelayanan sebagai seorang pribadi dan sebagai perwakilan dari gereja;
  • Kesempatan untuk menggunakan sumber-sumber seputar kehidupan berjemaat;
  • Kesempatan untuk mengambil inisiatif dalam membangun suatu hubungan konseling dan kemungkinan diadakannya intervensi awal;
  • dan Kesediaan pelayanan-pelayanan konseling dengan mengabaikan masalah pembayaran.

Ada juga batasan-batasan tertentu dalam pastoral konseling:
Batasan PERTAMA adalah waktu. Hanya sedikit pendeta (jika ada) yang memiliki waktu bagi semua jemaatnya yang membutuhkan konseling. Bahkan pendeta yang tanggung jawab utamanya adalah memelihara dan memberikan konseling pun merasa kekurangan waktu; tekanan dari tanggung jawab lain seringkali memungkinkan untuk melihat bahwa seseorang mengalami krisis yang parah. Namun sayangnya hal ini merusak kelebihan pastoral yang unik dari konseling intervensi awal yang potensial dan berorientasi-prevensi. Meskipun demikian, seperti yang diketahui banyak pendeta, permintaan pelayanan adalah tekanan yang konstan, mengurangi waktu yang tersedia untuk konseling dan, dalam beberapa kasus, membatasi konseling untuk intervensi- intervensi yang jelas.

Batasan KEDUA berhubungan dengan pelatihan yang biasanya diperoleh para pendeta dalam psikologi. Dalam beberapa kasus, pelatihan ini hanya bersifat sementara dan mempunyai implikasi untuk jenis konseling yang perlu ditangani. Beberapa model pastoral konseling memisalkan pengetahuan yang lebih maju tentang teori kepribadian dan psikoterapi dan merupakan pertanyaan-pertanyaan berguna bagi para pendeta yang hanya mengikuti satu atau dua kursus psikologi atau konseling. Sebagian besar pendeta tidak memiliki latar belakang yang dibutuhkan dalam teori kepribadian dan psikologi psychotherapeutic untuk memberikan psikoterapi rekonstruktif yang intensif. Atau mereka juga tidak memiliki pra-syarat pelatihan mengenai psikodiagnostik dan psikopatologi untuk memberikan perawatan total bagi beberapa individu yang bermasalah. Para pendeta, sama seperti konselor profesional lainnya, harus secara jelas menyadari keterbatasan mereka dalam bersaing dan siap serta bersedia mengalihkannya kepada orang lain ketika keterbatasan-keterbatasan itu dicapai. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam keterbatasan ini. Namun pastoral konseling seharusnya tidak dipandang sebagai suatu pengganti bagi terapi medis atau terapi psikologi lainnya. Ketika terapi lain dibutuhkan, pastoral konseling masih merupakan sumber pertolongan tambahan yang khusus dan berguna.

Batasan KETIGA berhubungan dengan konflik yang mudah sekali muncul ketika pendeta berganti profesi dan mengaitkan dengan apa yang dilihat dalam konseling dengan berbagai jenis peran lainnya. Tidak sama seperti para profesional konseling lainnya, pendeta tidak memiliki batasan kontak yang istimewa dengan para klien-nya di luar kantor konseling. Alasan mengapa para psikoterapis membatasi kontak adalah jika kontak tersebut menyulitkan terapi, kadang-kadang meng- kontaminasi perawatan secara menyeluruh sehingga kontak ini harus dihentikan. Aturan-aturan yang mengatur pelaksanaan pertemuan- pertemuan psikoterapi passien dan ahli terapinya dibuat untuk memfasilitasi tugas 'psychotherapeutic'. Aturan-aturan ini berbeda dengan aturan yang terkait dengan masalah sosial, bisnis, atau hubungan kekeluargaan. Namun, pendeta secara rutin bertemu dengan mereka yang terlibat dalam konseling melalui berbagai peran mereka. Hal ini seringkali membuat baik pendeta maupun jemaatnya dalam situasi yang janggal, terutama dalam hubungan konseling jangka panjang.

Batasan KEEMPAT berhubungan dengan tidak adanya pembayaran. Meskipun hal ini merupakan kelebihan yang membuat bantuan pendeta tersedia bagi mereka yang terbatas sumber keuangannya, tidak adanya pembayaran akan menurunkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab dalam proses konseling. Hal ini juga meningkatkan kemungkinan bahwa seseorang mengambil keuntungan dari waktu pelayanan, menggunakannya dengan cara-cara yang tidak produktif. Tidak adanya pembayaran, bagaimanapun juga, bisa merupakan kelebihan maupun kekurangan dari pastoral konseling yang biasa dilakukan.

Pastoral konseling tampaknya, sesuai dengan uraian di atas, menempati posisi terbaik sebagai konseling yang terfokus dan berani. Terapi intensif jangka panjang tampaknya tidak sesuai dengan terbatasnya waktu dari sebagian besar pendeta, atau sebagian besar pendeta tidak pernah mengikuti pelatihan yang penting dan tidak memiliki latar belakang psikologi sehingga tidak memiliki pengalaman yang sesuai ataupun produktif. Konseling jangka pendek juga membuat para pendeta dapat menghindari beberapa pemindahan komplikasi yang digolongkan sebagai bagian utama dari pertemuan konseling jangka panjang. Secara ringkas, pastoral konseling harus benar-benar terfokus, dan fokus yang sarankan sebaiknya berhubungan dengan tujuan utama dari pertumbuhan rohani.

Sumber
Halaman: 
33 - 36
Judul Artikel: 
Strategic Pastoral Counseling
Penerbit: 
Baker Book House, 1998

pernikahan tanpa status

Kepada YTH:
Bagaimana pendapat Bapak/ibu bila ternyata ada sebuah keluarga yang hidup bersama selama bertahun-tahun(sampai mempunyai anak dan cucu) tanpa memiliki status pernikahan yang di akui baik oleh gereja dan pemerintah. Bagaimana masalah ini dilihat dari sisi Kristen dan bagaimana masalah ini di tangani? Terima kasih atas perhatiaannya.

Hormat saya

Pernikahan Kristen

Yth. Bapak Julian,

Maaf, kami sangat terlambat memberi respons. Menurut pernikahan Kristen, orang yang hidup bersama tanpa ikatan itu tidak dapat disebut pernikahan. Dalam agama Kristen, orang tidak diperbolehkan melakukan hubungan tanpa status (kumpul kebo). Orang yang memiliki hubungan tanpa status seperti ini dikategorikan melakukan dosa perzinaan. Dan, hal ini merupakan kekejian bagi Tuhan. Selain itu, hal ini juga melanggar hukum pernikahan yang ada di Indonesia.

Untuk menangani masalah ini, kami mendorong orang tersebut untuk melakukan pengakuan dosa kepada Tuhan di hadapan pendeta dan jemaat, dengan kesungguhan hati untuk bertobat. Setelah itu, uruslah proses pernikahan yang legal sesuai prosedur yang berlaku di gereja dan negara. Jika sudah memiliki anak/cucu, doakan anak itu agar dikuduskan dan dibebaskan dari kutuk dosa yang diakibatkan dosa perzinaan orang tuanya.

Sebagai referensi, silakan baca artikel:
- Pilihlah Kemerdekaan Bukan Keterikatan
- Komitmen dalam Pernikahan
- Pernikahan dan Keluarga Kristen
- Tujuan dan Hakikat Pernikahan Kristiani
- Pernikahan di Mata Tuhan

Semoga penjelasan kami menjawab pertanyaan Anda.

Komentar