Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Makna Kehadiran Anak

Dialog: Hermanto dan Solaiman

T: Sebenarnya apa makna kehadiran anak dalam perkawinan?

J: Dalam sebuah rumah tangga, sejak awal sejarah manusia sampai sekarang, kehadiran anak adalah berkat istimewa. Kehadiran anak-anak dalam keluarga merupakan sarana pelengkap kepribadian ayah dan ibu (suami-istri) dalam unit keluarga mereka. Jadi, tidak perlu heran kalau rumah tangga yang tidak (belum) mempunyai anak terasa agak sepi.

T: Kalau zaman Adam dan Hawa dulu memang relevan karena manusia lain saat itu belum ada, yang ada di sekeliling mereka adalah berbagai jenis hewan. Akan tetapi zaman kita ini rasanya suami istri yang tidak mempunyai anak pun tidak dapat dikatakan kesepian. Bagaimana sebenarnya?

J: Dalam unit keluarga tetap saja merasa kesepian sebab jumlah penduduk di bumi ini tidak dapat menggantikan kehadiran anak dalam keluarga. Kembali pada sejarah manusia di Taman Eden, Kitab Suci memberitahu kita bahwa Allah telah memberikan Hawa kepada Adam sebagai teman yang sejodoh (sepadan). Mereka hidup bersama dalam wadah pernikahan yang suci sehingga dapat berkembang biak. Jadi, kalau dikatakan bahwa anak merupakan berkat istimewa, itu memang sesuai dengan apa yang dikatakan Alkitab di Kejadian 1:28, "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkan itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Jelaslah bahwa Allah memberkati perkawinan sepasang manusia pertama di Taman Eden, dan kemudian memerintahkan mereka agar berkembang biak untuk memenuhi bumi. Keturunan itu bagian dari berkat Allah.

T: Tugas dan kewajiban mulia bagi orang tua dalam keluarga ialah mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Sifat atau sikap apa yang diperlukan untuk menjalankan kewajiban tersebut?

J: Dibutuhkan sifat seperti kasih sayang, kesabaran, ketabahan menanggung sesuatu, belas kasihan, dan pengertian yang mendalam. Hal ini memerlukan proses serta latihan yang mungkin sampai beberapa tahun, sampai dapat menghaluskan dan meninggikan martabat hidup ibu dan ayah, sekaligus mengikis sifat-sifat yang tidak baik yang sudah ada sebelum mereka menikah atau sebelum keduanya punya anak.

T: Melalui proses waktu yang lama semacam itu, apakah ada contoh dari Alkitab?

J: Dalam Alkitab ada banyak. Satu contoh, Henokh yang tercantum dalam kitab Kejadian 5. Ketika anak pertama lahir, ia memperoleh pengalaman yang lebih agung. Ia mengalami hubungan yang manis dan agung dengan anaknya. Bahkan ia menyadari bagaimana menjalankan tanggung jawab selaku anak-anak Allah. Ketika Henokh menyaksikan cinta dan kasih anak-anaknya kepada dia sebagai ayah, Henokh memperoleh suatu pelajaran yang sangat indah tentang kasih dan cinta Allah kepada manusia. Ia hidup bergaul dengan Allah dan akhirnya diangkat ke surga tanpa pernah mengalami kematian secara jasmani.

T: Bukan hanya di kalangan Kristen saja, kita sering mendengar bahwa anak-anak itu adalah "titipan Tuhan", apa maksud ungkapan itu?

J: Intinya ialah anak (berapa pun jumlahnya) adalah karunia Tuhan kepada pasutri yang bersatu dalam wadah perkawinan. Tuhan menitipkan anak kepada kita selaku orang tua, namun anak itu sendiri adalah milik Tuhan. Sebab Dialah yang menciptakan kita manusia, termasuk anak-anak kita. Jika kita menyadari bahwa anak adalah milik Allah dan berasal dari Dia yang dititipkan dalam rumah tangga kita (bagi yang punya anak), tanggung jawab kita juga berat. Pasangan yang tidak mempunyai anak, dilihat dari sisi tanggung jawab, sebenarnya tidak seberat pasangan yang memiliki anak.

T: Kalau begitu dapat diartikan bahwa tanggung jawab kita selaku ibu dan ayah untuk mendidik anak-anak kita adalah amanat langsung dari Allah yang menitipkan anak-anak kepada kita?

J: Ya, memang betul. Merawat dan mendidik anak harus dianggap sebagai suatu kewajiban serta tanggung jawab yang mulia dan agung. Sebagai orang tua, hendaknya kita menerima kedudukan kita sebagai suatu panggilan suci. Allah sangat mengasihi manusia, termasuk anak-anak. Oleh sebab itu, Ia mengimbau kepada para orang tua (yang mempunyai anak khususnya), untuk bekerja sama dengan Dia membentuk karakter dalam pribadi anak-anak kita.

T: Mengapa tanggung jawab orang tua mengasuh, membesarkan, dan mendidik anak-anak itu harus diterima sebagai suatu panggilan?

J: Perlu kita sadari bahwa anak-anak sekarang adalah orang dewasa di masa depan. Mereka adalah harapan bangsa pada masa mendatang. Selaku orang tua kita harus mengasuh mereka dengan benar. Berikan kepada mereka peraturan dan disiplin yang dipadukan dengan cinta dan kasih sayang yang mendalam, penuh pengertian, dan dilakukan dengan sabar. Dengan demikian, anak-anak kita sejak kecil sampai dewasa nanti hidup dalam jalan Tuhan dan berguna bagi sesama manusia. Seorang raja Yahudi yang bijaksana berkata bahwa anak-anak itu harus diajar sejak dini. Agar jelas, silakan baca Amsal 22:6, "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu." Dari semua pelajaran yang dipelajari anak-anak, ketaatan merupakan faktor yang paling utama. Ketika seorang ibu mendidik anaknya, hendaknya jangan lupa melatih cara hidup yang bersifat menyembah dan memuja Allah. Anak harus dilatih untuk beribadah kepada Allah sejak dini. Pekerjaan utama ibu ialah mengasuh anak. Mengasuh berarti bahwa seorang ibu harus mengendalikan kemauan dan tingkah laku anak, dengan tujuan utama agar anak menjadi manusia yang taat. Pengasuhan itu harus dilakukan dengan sikap tenang dan sabar. Jika kita selaku orang tua memerintah dengan kasar, anak-anak mungkin saja kelihatan taat, namun ketaatan seperti itu karena ketakutan atau keterpaksaan, bukan taat karena sukarela. Cara seperti itu bukanlah arahan yang benar. Sebagai orang tua, kita harus tetap menjaga nada dan irama suara agar terdengar lembut pada saat menyuruh anak mengerjakan sesuatu. Dengan demikian kita sebenarnya mencegah anak dari sikap yang kasar, setelah dewasa pun anak tidak bersikap melawan dan memberontak.

T: Bagaimana dengan pasangan yang tidak dikaruniai anak, apa yang sebaiknya dilakukan pasangan itu?

J: Selaku pasangan yang tidak punya anak, kita pun perlu mensyukurinya sebab di balik itu pasti ada maksud terbaik Tuhan bagi rumah tangga kita. Walaupun tidak punya anak, namun keduanya terpanggil untuk mengasuh, membesarkan, dan mendidik anak, kerinduan itu tidak terlalu sulit untuk diwujudkan, yaitu dengan cara mengadopsi anak. Mungkin hal ini merupakan bagian dari rencana Tuhan untuk mengangkat anak yang orang tuanya kurang mampu secara ekonomi misalnya, sehingga tanggung jawab dan biaya pendidikan formal dapat diambil alih oleh pasangan yang menjadi orang tua angkat itu. Cara itu pun termasuk panggilan pelayanan. Perlu diingat, sebelum mengambil keputusan untuk menjadi orang tua yang mengadopsi anak, suami dan istri harus kompak dan memiliki misi yang sama, yaitu siap berkorban dalam mengemban tanggung jawab sebagai orang tua angkat yang terpanggil.

Sumber
Halaman: 
12 - 19
Judul Artikel: 
Kalam Hidup, Edisi Nopember 2003
Penerbit: 
Kalam Hidup, Bandung

Komentar