Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Masalah-Masalah Disiplin

Edisi C3I: e-Konsel 166 - Konflik Antara Orang Tua dan Anak

Dia tampaknya seperti seorang gadis kecil yang manis.

"Angela!" Ibunya berteriak jengkel. "Angela, Mama bilang ayo cepat kemari sekarang juga!"

Saya melihat wajah gadis cantik berusia lima tahun yang berdiri di tangga sebuah pertokoan itu tiba-tiba berubah menjadi merah padam.

"Tidak!" dia menjerit. "Aku ingin melihat mainan itu sekarang!"

Ibunya tampak jengkel saat dia menggandeng tangan Angela dan mulai menyeretnya, berteriak-teriak di toko itu. Saat mereka melewati saya, saya melihat mata ibunya melotot sambil mengomel, "Hari yang seperti biasanya."

Bila Anda adalah orang tua dari anak yang berkemauan keras, Anda tahu betapa frustasinya melihat anak Anda yang cerdas, baik, dan kreatif tiba-tiba berubah menjadi anak yang keras kepala, tidak mau dibujuk. Apa yang harus Anda lakukan untuk mengatasi tantangan itu? Bagaimana anak yang cerdas ini bisa berubah menjadi seperti monster?

Orang tua yang frustasi di seluruh dunia ini menghadapi tantangan dalam mendisiplin anak-anak mereka tanpa mematahkan semangat mereka. Sebagai orang tua yang mengasihi, kita ingin melakukan yang terbaik, tetapi sering kali sulit bagi kita untuk menerima dan mengingat bahwa setiap anak itu berbeda, unik, serta memunyai respons yang lebih baik terhadap bentuk-bentuk disiplin daripada yang lainnya. Meskipun ini menjadi tantangan yang berbeda terhadap konsep dan praktik disiplin yang efektif, hal ini juga meyakinkan kita bahwa kita bisa tetap menekankan tanggung jawab sembari menghormati gaya dari masing- masing anak.

Berikut beberapa konsep penting yang bisa efektif diterapkan pada semua gaya anak.

  1. Kekuasaan dan tanggung jawab seharusnya selalu utuh.

    Saya termasuk dalam kelompok "Concrete Random", anak yang berkemauan keras dan saya bisa katakan kepada Anda bahwa sebenarnya setiap anak ingin menghormati kekuasaan dan berharap diberi tanggung jawab. Pemahaman terhadap kekuatan suatu gaya belajar sebenarnya dapat membantu Anda menekankan tanggung jawab dengan menyampaikan kekuasaan Anda melalui cara yang tepat bagi anak.

  2. Ingatlah, Anda tidak dapat memaksa anak Anda untuk patuh.

    Saat saya baru menjadi ibu dari anak kembar, saya terkejut dan frustasi. Meskipun tiap anak ini beratnya tidak lebih dari tujuh pon, mereka tetap saja makhluk hidup yang tidak bisa saya paksa! Contohnya, saya tidak bisa memaksa mereka untuk mengasihi atau menghormati saya. Suka atau tidak, setiap kita, tua atau muda, memiliki kehendak bebas. Sebagai orang tua, kita harus menyadari bahwa kita tidak bisa memaksa anak-anak kita untuk mematuhi kita hanya karena kita ingin mereka melakukannya.

  3. Kekuatan dan kualitas hubungan Anda dengan anak Anda memiliki kekuatan yang lebih besar daripada teknik disiplin apapun.

    Konsep ini sangat berkaitan dengan poin sebelumnya. Karena kita tidak bisa memaksa anak kita untuk taat kepada kita, maka semakin kita memiliki relasi yang baik dengan mereka, semakin mereka memberikan respons yang positif terhadap tuntunan kita. Di masa awal saya menjadi orang tua, saya mendalami sekali anak saya, Michael, yang memiliki kemauan yang keras. Pada saat saya dan dia bertengkar, saya bekerja keras berusaha menjalin hubungan yang kuat dan penuh kasih. Hasilnya, dia dan saya menjadi akrab. Bila saya sedih karena dia, dia tidak tahan dengan keadaan itu. Hasilnya, usaha saya untuk mendisiplin dia bisa lebih efektif. Bila anak Anda tidak peduli bahwa Anda sedih karena mereka, berarti usaha-usaha Anda untuk mendisplin mereka hanya memberikan dampak yang kecil. Bila Anda memiliki hubungan yang baik, penuh kasih dengan anak-anak Anda, rawatlah hubungan itu dengan melatih kekuasaan pendisiplinan Anda dengan hati-hati. Anak-anak biasanya peka terhadap h al-hal yang janggal dan ketidakadilan, yang bisa menghancurkan hubungan yang baik.

  4. Ingatlah untuk bertanya pada diri Anda sendiri: "Apa intinya?"

    Anak-anak yang masih kecil pun perlu tahu mengapa hal-hal ini penting. Anak-anak kita tidak perlu harus setuju dengan alasan kita, tetapi kita harus memerlihatkan kepada mereka hak untuk mendapatkan penjelasan bila mereka menginginkannya. Bila Anda sering berdebat dengan anak Anda dan perdebatan ini berubah menjadi perang kekuasaan, cobalah untuk mengatakan dengan tenang alasan atas apa yang Anda minta dia untuk lakukan, dan kemudian katakan konsekuensi dari ketidaktaatan. Ingatlah, tindakan yang Anda lakukan akan menjadi lebih efektif lagi daripada kemarahan atau emosi-emosi lainnya yang Anda tunjukkan. Bila Anda justru menaikkan volume suara Anda saat mendisiplin anak Anda, dan bukannya meminta dia untuk melakukan apa yang Anda katakan atau yang lainnya, itu berarti Anda di posisi yang salah.

    Dengan anak-anak yang lebih besar, biarkan mereka memberikan beberapa masukan atas situasi yang terjadi. Tentukan parameter Anda dan buatlah tujuan-tujuan yang spesifik. Kemudian tanyakanlah ide-ide mereka saat situasi ini mencapai tujuannya. Bersikaplah hangat dan ramah saat membiarkan setiap orang tahu konsekuensi yang harus dihadapi bila tidak patuh, dan pastikan Anda menekankan percakapan yang penuh kasih dan perhatian atas keterlibatan mereka dalam proses ini. (t/Ratri)

Diterjemahkan dari:

Sumber
Halaman: 
65 -- 67
Judul Artikel: 
Dealing with the Issues of Disicpline
Judul Buku: 
Every Child Can Succeed
Pengarang: 
Cynthia Ulrich Tobias
Penerbit: 
Tyndale House Oublisher
Kota: 
Illinois
Tahun: 
1996

Tidak dapat memaksa anak untuk patuh

Memang benar, jaman sudah berubah. Anak jaman sekarang tidak lagi seperti anak jaman kita dulu, yang selalu 'manut' pada orang tua. Jadi pola asuh orang tua saya dulu tidak akan berhasil jika diterapkan pada anak saya sekarang ini. Sebagai orang tua, kita juga harus menyesuaikan pola asuh terhadap perkembangan jaman, bukan berarti harus menuruti kemauan anak, tetapi harus lebih memahami karakter masing-masing anak supaya ajaran/didikan kita bisa mereka terima dan mereka patuhi tanpa harus menimbulkan konflik antara orang tua dan anak.

Komentar