Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bimbingan Alkitab

Mandat Konseling Pastoral

Edisi C3I: e-konsel 267 - Tanggung Jawab Konseling Pastoral

Diringkas oleh: Sri Setyawati

Mandat pelayanan konseling pastoral adalah "sustaining", artinya menunjang, mendukung, menguatkan. Di gereja, gembala merupakan kawan sekerja Allah dalam melakukan konseling pastoral. Salah satu tugas seorang gembala dalam konseling pastoral adalah menguatkan (Yehezkiel 34:16 dan Matius 4:23).

Istilah konseling diambil dari kata "counselor" (Bahasa Inggris). Dalam 1 Tawarikh 27:32, konselor berarti "Penasihat"; sedangkan dalam Yesaya 9:5 berarti "Penolong, Penghibur, dan Penasihat". Sesudah Perang Saudara di Amerika, akhir abad ke-19, konselor yang awalnya diartikan sebagai penasihat dalam bidang hukum, selanjutnya diartikan sebagai penolong klien lewat pendekatan psikologis dan psikiatri. ... baca selengkapnya »

Menerima Nasihat (e-Konsel edisi 263)

Edisi C3I: e-konsel 263 - Pentingnya Nasihat untuk Anak Muda

Kitab Amsal menekankan pentingnya mendengarkan nasihat dalam keputusan-keputusan penting. Kitab Amsal disusun sebagai kitab nasihat dari orang tua atau orang berhikmat kepada anaknya, baik laki-laki maupun perempuan, atau orang muda lainnya (Amsal 1:8, 10; 2:1; 3:1; dll.). Perlunya mencari dan mendengarkan pertimbangan atau nasihat yang bijak dalam beberapa cara merupakan satu-satunya pesan dalam kitab itu. Sebaliknya, mengabaikan nasihat orang berhikmat adalah hal yang sangat berdosa (Amsal 1:22-27).

Orang yang mencari nasihat dikontraskan dengan mereka yang menolak nasihat. "Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak." (Amsal 12:15) "Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat." (Amsal 13:10) ... baca selengkapnya »

Menerima Nasihat

Edisi C3I: e-konsel 259 - Nasihat

Nats: "Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya." (Keluaran 18:24)

Bacaan: Keluaran 18:13-27

Musa memang hebat. Bukan saja karena hal-hal besar yang ia lakukan, tetapi juga karena sebagai tokoh besar dan pemimpin, ia tetap mau terbuka menerima masukan. Musa menjadi pemimpin yang patut ditiru karena dia memerhatikan, mengasah, dan mengolah usulan yang datang kepadanya.

Ketika Yitro, mertuanya, melihat bagaimana Musa menangani sendiri semua hal tentang pengelolaan masalah bangsa Israel, ia mengingatkan bahwa itu "tidak baik" (ayat 17). Yitro lalu mengusulkan agar dalam menjalankan tugasnya ini, Musa memakai strategi yang lebih tepat, termasuk bahwa ia dapat melibatkan orang-orang yang cakap sebagai mitra pelayanan. Musa mendengarkan usulan ini dan sungguh-sungguh melakukannya. Setelah beres, barulah Musa melepas mertuanya pergi (ayat 27). Artinya, sang mertua masih bisa melihat bagaimana Musa memperbaiki sistem pelayanannya. Betapa indahnya bila seseorang mendengarkan dan menerima nasihat baik dari orang lain, demi pelayanan yang lebih baik dalam pekerjaan Tuhan! ... baca selengkapnya »

Bagaimana Mengalahkan Kekhawatiran?

Edisi C3I: e-Konsel 254 - Merdeka dari Kekhawatiran

Sebagian besar manusia menghadapi dua macam kekhawatiran: keraguan akan kesanggupan Tuhan untuk menolong kita, dan risau tentang keteledoran dan ketidakbijaksanaan diri kita sendiri. Kita perlu membedakan dengan jelas di antara keduanya.

Seandainya kita diganggu oleh kekhawatiran yang pertama, kita perlu menyadari bahwa Tuhan mampu dan Ia sedang memerhatikan kita. Kekhawatiran semacam itu tidak patut bagi orang yang beriman. Sebaliknya, bila kita risau karena merasa khawatir, kita tentu tidak bisa mengerjakan berbagai hal dengan tepat.

Dalam 1 Korintus 9:27 Paulus berkata, "Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak." Paulus memunyai kekhawatiran yang masuk akal, bahwa manusia lahiriahnya dan kecenderungannya sendiri untuk berbuat dosa -- jika tidak diperiksa dengan baik -- kemungkinan akan menyebabkan kemuliaan Tuhan berkurang di dalam hidupnya. Ini adalah kekhawatiran yang dapat dibenarkan. ... baca selengkapnya »

Menjauhi Minum Minuman Keras

Edisi C3I: e-Konsel 250 - Penyalahgunaan Minuman Keras

Masalah: Seorang peminum tidak mampu mengendalikan keinginannya untuk minum minuman keras (miras). Akibatnya, ia akan mengonsumsi miras dengan kadar yang semakin tinggi. Ini akan memperparah masalah-masalah kehidupan dan kepribadiannya. Untuk menutupi kekurangannya, ia cenderung bertindak berlebihan. Sebelum bekerja ataupun di tempat kerja, ia akan minum. Setiap saat ia akan terbelenggu oleh nafsu yang tidak terkendali untuk minum.

Pandangan Alkitab: Allah sanggup menolong pemabuk. Paulus menulis "Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu, tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita." (1 Korintus 6:11) Penyalahgunaan minuman keras merupakan akibat dari menuruti kecenderungan/keinginan kita yang salah (Galatia 5:19-21), tapi Roh Kudus mampu mengontrol hidup kita, sekaligus memampukan kita untuk mengontrol diri, sehingga kita bisa berhenti dari minum minuman keras (Galatia 5:22-23). ... baca selengkapnya »

Mertuaku, Menantuku

Edisi C3I: e-Konsel 246 - Membangun Hubungan Baik dengan Keluarga Mertua

Bacaan: Rut 1:16-17

Ada sebuah pepatah mengatakan: "Setajam-tajamnya duri lidah buaya, masih lebih tajam lidah ibu mertua." Pepatah ini menggambarkan hubungan yang tidak akur antara menantu dan mertua. Untuk itu, bila ada seorang istri yang menceritakan hubungannya dengan ibu mertuanya cukup harmonis, maka komentar yang muncul adalah, "Wah hebat, kasus langka!" Sebaliknya, jika diceritakan sang menantu perempuan yang sering konflik dengan ibu mertuanya, maka komentar yang akan keluar adalah "Ah itu sih, biasa!"

Sebuah studi mengatakan bahwa 60 persen hubungan mertua perempuan dengan menantu perempuan berada di dalam ketegangan. Mengapa banyak hubungan mertua dan menantu kurang baik? Alasannya adalah: ... baca selengkapnya »

Mengajar Anak Berdoa Sebelum Belajar

Edisi C3I: e-Konsel 241 - Mengenali Masalah Belajar Anak

Landasan firman Tuhan: Filipi 2:5

Paulus menulis ini pada rekan sekerjanya, Timotius, tentang sifat yang harus kita miliki di dalam Kristus Yesus. Ia berkata, "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban." (2 Timotius 1:7) Lukas menggambarkan Yesus ketika masih kecil "makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia." (Lukas 2:52)

Tujuan yang harus kita tunjukkan pada anak kita adalah mereka memunyai pikiran sehat, yang bisa membedakan antara kejahatan dan kebaikan, dan yang ditetapkan oleh Tuhan. Kita harus selalu menunjukkan pada anak- anak kita untuk meraih hikmat, kemampuan untuk berpikir, dan menggunakan rasio dalam situasi apa saja seperti cara berpikir Yesus. ... baca selengkapnya »

Memahami Kebangkitan

Edisi C3I: e-Konsel 237 - Kemenangan Yesus atas Maut

Kebangkitan Yesus Kristus dari maut mengubah segalanya -- bagi Dia dan bagi kita. Kebangkitan-Nya dari maut "bukan sekadar peristiwa besar dalam sejarah, namun kisah yang terjadi dalam sejarah dengan kuasa dari 'dunia lain'. Kisah ini berhubungan dengan awal penciptaan; dan Injil adalah kabar baik bahwa Tuhan sedang menciptakan dunia yang baru."

Tubuh Baru yang Mulia

Kebangkitan Yesus tidak hanya berarti bahwa Yesus hidup, tetapi Dia hidup dengan maksud khusus. Dia tidak hanya hidup dalam roh, tetapi juga dalam tubuh kemuliaan-Nya -- hidup dalam seluruh kemanusiaan-Nya. Kebangkitan-Nya berarti berakhirnya kuasa maut. Kebangkitan Kristus juga menyatakan penebusan dosa manusia dari sakit-penyakit, penderitaan, dan kematian, mulai sekarang dan sampai selamanya. ... baca selengkapnya »

BAB 14 Baptisan Roh Kudus

Bab XIV : Baptisan Roh Kudus


XIV. Baptisan Roh Kudus

Komentar


Syndicate content